RSS

FISIOLOGI HEWAN: Lokalisasi Sumber Suara

09 Mei

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

LOKALISASI SUMBER SUARA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH :

NAMA                                         : ARMADI CHAIRUNNAS

NIM                                              : F1 D1 08 020

PROGRAM STUDI                   : BIOLOGI

JURUSAN                                   : BIOLOGI

KELOMPOK                              : III (TIGA)

ASISTEN PEMBIMBING        : AGUS RINAL

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2011

 

 

 

I. PENDAHULUAN

 

  1. A.  Latar Belakang

Secara anatomi, telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar, tengah dan dalam. Telinga berfungsi mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai kegendang telinga. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai kanalis semisirkularis yang berisi cairan. Ditelinga tengah ini, gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan  di kanalis semisirkularis, adanya ligamen antar tulang mengamplikasikan getaran yang dihasilkan dari gendang telinga. Telinga dalam merupakan tempat ujung ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan ransangan suara.

Telinga mampu melokalisasikan sumber suara/bunyi. Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterimanya masing-masing telinga serta perbedaan saat diterimanya gelombang suara di kedua telinga. Kemampuan telinga untuk membedakan suara yang berjalan horisontal lebih baik daripada kemampuannya untuk membedakan suara yang vertikal.

 

 

 

 

B.  Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada praktikum ini adalah Bagaimana melokalisasikan suara ?

 

C. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk menunjukkan kemampuan melokalisasikan sumber suara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

Telinga dapat dibedakan menjadi tiga bagian berdasarkan anatominya yaitu: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.

  1. Telinga luar, telinga luar mengumpulkan gelombang bunyi ke meatus auditorius eksternus. Pada beberapa hewan telinga dapat bergerak seperti antena radar yang mencari sumber bunyi. Dari meatus, kanalis auditorius eksternus berjalan ke dalam menuju membran tympani ( Ganong,2002).

Membran tympani , yang disebut juga gendang telinga, memisahkan telinga luar dan telinga tengah.  Sebagian dari tulang temporalis, procesus mastoideus, terletak di belakan gdan dibawah di bawah saluran luar ( Corwin, 2000).

Dasar dari telinga luar  terdiri dari tiga kartilago, yakni kartigago konkal, skutiformis, dan kartilago anuler. Kartilago konkal merupakan kartilago terbesar, bentuknya menyerupai kerang laut, dan merupakan corong gelombang suara memasuki saluran telinga.. kartilago skutiformis terletak pada permukaan superficial dari otot temporalis dan melekat pada telinga extrinsik. Beberapa otot melekat pada kartilago konkal dan beberapa melekat tidak langsung pada kartilago skutiformis. Otot-otot extrinsik telinga diinervasi oleh saraf fasial (kranial keVIII). Telinga bagian externa menerima sensasi dari saraf trigeminus, fasial,dan saraf vagus. (Frandson, 1992)

Mikro-Lumen saluran auditori luar memiliki kontur yang tidak teratur, disebabkan oleh lipatan kulit permanen dengan sel-sel lemak di tengahnya. Campuran sebum dengan sekreta kelenjar serumen dan sel yang terkelupas dari epitel pipih banyak lapis membentuk kotoran telinga.(Delman, 1992).

  1. Telinga tengah.

Telinga tengah adalah rongga beisi udara di dalam tulang temporalis yang terbuka melalui tuba Eustachii ke nasofaring dan melalui nasofaring keluar. Tuba biasanya tertutup. Tetapi selama mengunyah, menelan, dan menguap saluran ini terbuka, sehingga tekanan udara di kedua sisi gendang telinga seimbang.( Ganong, 2002)

Mikro-. Ruang timpani yang berisi udara, memiliki tiga tulang pendengaran dengan otot serta ligamen, dibalut oleh epitel pipih selapis atau epitel kubus sebaris menopang lapis jaringan ikat tipis. Beberapa sel epitel memiliki silia, terutama yang tersebar di lantai rongga tersebut.(Delman, 1992)

  1. Telinga dalam

Telinga dalam adaalah suatu organ kompleks yang terdiri dari dua struktur, yakni labirin bertulang di sebelah luar dan labirin membranosa di bagian dalam. Labirin bertulang dipisahkan dari labirin membranosa oleh cairan kental disebut perilimfe. Labirin membranosa terisi oleh cairan endolimfe. Di labirin bertulang terdapat koklea, vestibulus dan kanalis semisirkularis.(Corwin, 2000)

Labirin membranosa juga mencakup tiga buah saluran semi sirkuler, sebuah di dalam setiap saluran oseosa semi sirkuler. Dua kantung membran yaitu utrikel dan sakule adalah bagian labirin membranosa dan terletak dalam vestibula. Kedua ujung dari setiap saluran semisirkuler terbuka ke arah dalam utrikel. Utrikel ini jg berhubungan dengan sakule melalui duktus endolimfatik. Selanjutnya sakule berhubungan dengan koklea membranosa.( Frandson, 1992).

Koklea. Bagian koklea labirin adalah saluran melingkar yang pada manusia panjangnya 35mm. Membran basilaris dan membran Reisner membentang sepanjang saluran ini dan membagi menjadi 3 skala. Skala vestibuli di bagian atas dan skala timpani di bagian bawah mengandung perilimfe dan berhubungan satu sama lain di apeks koklea melalui sebuah lubang kecil yang disebut helikotrema. Skala timpani berakhir di fenestra rotundum, sebuah foramen di dinding medial telinga tengah yang tertutup oleh membran timpani sekunder. Skala media, ruang koklea tengah bersambungan dengan labirin membranosa dan tidak berhubungan denga skala lainnya dan mengandung endolimfe.(Ganong, 2002).

Vestibulum. Vestibulum merupakan rongga kecil berbentik lonjong berbatasan dengan dinding medial ruang timpani. Ke arah rostral  berkomunikasi dengan koklea dan ke arah kaudal dengan saluran semisirkular. Dinding medial memiliki utrikulus selaput dan sakulus. Kedua struktur tersebut dihubungkan oleh saluran utrikulosakulus. di daerah tertentu dalam labirin berselaput, sel-sel epitel pipih berubah menjadi silinder tinggi. Ini merupakan daerah neuroepitel utrikulus, sakulus, dan ampula dari saluran semisirkuler (Delman, 1992)

Getaran suara akan menggetarkan udara dan akan dikumpulkan dalam pinna. Getaran akan diteruskan ke dalam telinga dan akan menggetarkan membran timpani selanjutnya ke tulang pendengaran dan menuju tingkap oval. Getaran kemudian disalurkan ke dalam saluran vestibular koklea yang kemudian akan menggetarkan perilimfe di dalamnya. Getaran akan menggetarkan membran basal organ Corti yang memiliki sel rambut. Gerakan sel rambut menyapu membran tektorial akan mengakibatkan perubahan posisi rambut dan menyebabkan pembukaan kanal K+ sehingga memacu depolarisasi yang kemudian di teruskan ke saraf akustik menuju otak. Getaran akan diteruskan menuju tingkap bundar melalui saluran timpanik (Cambell, 2003).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. METODE PRAKTIKUM

 

A.  Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari sabtu 16 April 2011, pukul 13.00 WITA hingga selesai. Kegiatan ini berlangsung di Laboratorium Fisiologi FMIPA Unhalu Kendari.

B.  Alat dan Bahan

1.  Alat

Alat

Fungsi

Jam weker Untuk melihat reaksi probandus terhadap suara
Alat tulis menulis Untuk mencatat hasil pengamatan

 

2. Bahan

Bahan

Fungsi

Probandus Sebagai objek yang diteliti.

 

C.  Prosedur Kerja

1)      Menutup mata probandus

2)       Membunyikan sumber bunyi yang ada pada jarak 20 cm dari probandus

Memvariasikan posisinya di depan kepala, di atas kepala, belakang kepala, atau samping kepala

4. Probandus menebak posisi sumber bunyi setiap kali posisi di ubah

 

 

 

B. Pembahasan

 

Mendengar adalah kemampuan suatu organisme untuk menangkap atau mendeteksi adanya udara yang bergetar sehingga menyebabkan terjadinya bunyi dengan panjang gelombang(frekuensi) dan amplitudo tertentu.  Dalam keadaan biasa, vibrasi mencapai indera pendengar, yaitu telinga melaui udara. Berdasarkan hasil praktikum, dimana probandus menebak posisi sumber bunyi (koin) dengan mata tertutup pada jarak 20 cm, ternyata akurasi pendengaran dalam menebak posisi sumber bunyi hanya 90%.  Dimana posisi koin yang berada di belakang kepala tidak tertebak dengan benar. 

Adanya keakurasian yang tidak sempurna (100%) dalam melokalisasikan atau menebak posisi sumber bunyi dapat disebabkan oleh beberapa hal.  Misalnya karena mata probandus yang ditutup, sehingga indera yang berfungsi sebagai penglihatan tidak dapat digunakan untuk membantu dalam menebak sumber bunyi.  Selain itu kesalahan dalam menebak posisi sumber bunyi dapat juga terjadi karena adanya gangguan-gangguan telinga antara lain tuli konduksi ataupun tuli saraf sehingga mengganggu dalam menebak sumber bunyi.

Faktor- faktor lainnya dapat terjadi karena faktor usia dimana semakin tua maka semakin rendah kemampuan panca indera seseorang. Kemudian penyebab lainnya yaitu adanya sumbatan pada liang telinga yang menyebabkan terjadinya hal ini. Selain untuk mendeteksi bunyi/gelombang suara, telinga juga mempunyai fungsi lain yaitu sebagai alat deteksi posisi tubuh yang berhubungan dengan gravitasi dan gerak tubuh atau dikenal sebagai alat keseimbangan (equilibrium) tubuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V. PENUTUP

 

  1. A.  Simpulan

            Adapun kesimpulan dalam praktikum ini adalah mendengar adalah kemampuan suatu organisme untuk menangkap atau mendeteksi adanya udara yang bergetar sehingga menyebabkan terjadinya bunyi dengan panjang gelombang(frekuensi) dan amplitudo tertentu. Bunyi suara ini dapat didengar telinga melalui udara.

 

  1. B.   Saran

Saran yang dapat saya ajukan adalah agar dalam praktikum selanjutnya lebih ditingkatkan lagi.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Brown dan Dellman.1992.Buku Teks Histologi Veteriner II. UI-Press. Jakarta

Campbell dkk.2003.Biology jilid 3. Erlangga. Jakarta

Corwin, Elizabeth. 2000. Patofisiologi. EGC. Yogyaakarta

Ganong, William. 2002. Fisiologi Kedokteran. EGC.  Jakarta

Frandson. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. UGM Press.  Yogyakarta

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 9, 2012 in Kumpulan Laporan Biologi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: