RSS

FISIOLOGI HEWAN: Hemolisis

09 Mei

PRAKTIKUM I

HEMOLISIS

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH :

NAMA                             : ARMADI CHAIRUNNAS

NO. STAMBUK                         : F1 D1 08 020

PROGRAM STUDI       : BIOLOGI

JURUSAN                       : BIOLOGI

KELOMPOK                  : III (TIGA)

 

 

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2011

 

I. PENDAHULUAN

  1. A.    Latar  Belakang

System sirkulasi pada manusia terdiri atas alat-alat peredaran darah, pembuluh darah, serta darah yang bertugas sebagai pelaksana transportasi.Darah merupakan suatu suspensi berwarna merah yang terdapat didalam pembuluh darah. Warna merah ini dapat berubah-ubah tergantung kadar oksigen dan kadar karbon dioksida yang terkandung didalamnya.

 Sel-sel darah pada manusia, terdiri atas sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Dalam sel-sel darah, kandungan sel darah putih  dan keping darah sebanyak 1%, sedangkan sel darah merah sebanyak 99%.

            Untuk senantiasa berada dalam keadaan yang seimbang sel senantiasa melakukan transport antar membrane. Transport antar membrane di bagi menjadi 2 yaitu pasif dan aktif. Diantara yang termasuk kedalam transport pasif adalah proses difusi dan osmosis.

            Sistem organ meliputi system peredaran darah dalam tubuh yang di kontrol oleh organ jantung. Darah merupakan cairan tubuh yang sangat penting dan harus tersedia dalam jumlah yang cukup. Berkurangnya caiaran tubuh atau terjadinya peristiwa tertentu pada darah akan mengakibatkan terjadinya hemolisis pada darah.

 

 

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Bagaimana peristiwa hemolisis dan krenasi berlangsung?

  1. C.    Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah mendemostrasikan peristiwa hemolisis dan krenasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

            Golongan darah seseorang mempunyai arti penting dalam kehidupan karena golongan darah itu merupukan keturunan (herediter). Sampai saat ini telah ditemukan cukup banyak sistem golongan darah, tetapi dalam tinjauan pustaka ini hanya akan diterangkan sistem yang paling penting, yaitu sistem ABO dan sistem Rh. Namun hanya sistem golongan darah Rhesus yang akan dijelaskan secara labih terperinci karena kaitannya dengan penyakit eritroblastosis fetalis.

            Darah terdiri dari dua komponen, yaitu sel sel dan cairannya (plasma). Plasma tanpa fibrinogen biasa kita sebut dengan serum. Pada abad ke 18, terjadi banyak kematian pada resipien tanpa diketahui sebab sebab nya. Namun Landsteiner menemukan bahwa sel sel darah manusia dari beberapa indivisu akan menggumpal ( beraglutinasi ) dalam kelompok kelompok yang dapat dilihat dengan mata telanjang, apabila dicampur dengan serum dari beberapa orang, tetapi tidak dengan semua orang. Kemudian diketahui bahwa dasar dari menggumpalnya eritrosit tadi ialah adanya reaksi antigen antibodi. Apabila suatu substansi asing disuntikkan ke dalam aliran darah dari seekor hewan akan mengakibatkan terbentuknya antibodi tertentu yang akan beraksi dengan antigen.(Suryo, 2005)

Sel darah merah (eritrosit) membawa hemoglobin dalam sirkulasi. Sel darah merah berbentuk cakram bikonkaf dan dibentuk dalam sumsum tulang. Pada mamalia sel darah merah kehilangan intinya sebelum masuk sirkulasi. Pada manusia, sel darah merah hidup dalam sirkulasi 120 hari (Ganong, 297).

Darah merupakan cairan viskus yang mengalami perubahan pada fisiknya yang dapat ditemukan pada beberapa penyakit. Komposisi darah yang unik suatu suspensi sel yang dapat berubah didalam larutan yang kaya protein menghasilkan sifat fisik yang kompleks. Sebagian besar pembuluh darah, shear rates (misalnya perbedaan velositas antara lapisan cairan) sangat tinggi yang bersebelahan dengan dinding arteri besar sebaliknya shear rates yang rendah terdapat pada vena kecil (Underwood,1999).

Unsur seluler suluruh darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit, RBC atau red blood corpuscules), beberapa jenis sel darah putih (leukosit, WBC atau white blood corpuscules), dan pecahan sel yang disebut trombosit. Fungsi sel darah merah adalah untuk transfor dan pertukaran oksigen serta karbondioksida. Sedangkan sel darah putih bertanggung jawab untuk mengatasi infeksi dan trombosit untuk hemostatis (Price, 1984).

Komponen darah yang lain yaitu platelet (trombosit), yaitu partikel yang menyerupai sel, dengan ukuran lebih kecil daripada sel darah merah atau sel darah putih. Sebagai bagian dari mekanisme perlindungan darah untuk menghentikan perdarahan, trombosit berkumpul pada daerah yang mengalami perdarahan dan mengalami pengaktifan. Setelah mengalami pengaktivan, trombosit akan melekat satu sama lain dan menggumpal untuk membentuk sumbatan yang membantu menutup pembuluh darah dan menghentikan perdarahan. Pada saat yang sama, trombosit melepaskan bahan yang membantu mempermudah pembekuan (Junquiera dkk, 1999).

Suatu antigen itu sangat spesifik untuk antigen tertentu. Terbentuknya antibodi demikian itu tergantung dari masuknya antigen asing. Selain dengan cara demikian, antibodi itu tidak akan dibentuk. Sistem demikian itu merupakan dasar dari imunisasi maupun untuk reaksi alergi. Sebaliknya ada pula antibodi yang dibentuk secara alamiah didalam darah, meskipun antigen yang bersangkutan tidak ada. Antibodi alamiah inilah yang mengambil peranan dalam golongan darah manusia, terutama dalam golongan darah A, B, AB, dan O yang amat penting.(Ganong, 2005).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. METODE PRAKTIKUM

 

  1. A.    Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 19 Maret 2011 pukul 13.30 WITA sampai selesai dan bertempat di Laboratorium Fisiologi Fakultas MIPA Universitas Haluoleo Kendari Sulawesi tenggara.

  1. B.     Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada Table 1.

Tabel 1. Alat yang digunakan pada praktikum Hemolisis

NO Alat Fungsi
1 Tabung reaksi Untuk menyimpan media pengamatan
2 Kaca objek Untuk menyimpan media yang akan diamati
3 Kaca penutup Untuk menutup media yang akan diamati agar tidak bergeser dari tempatnya
4 Mikroskop Untuk mengamati media yang akan diamati

 

 

Tabel 2. Bahan yang digunakan pada praktikum Hemolisis

NO Bahan Fungsi
1 NaCl 0,9% Sebagai larutan pembanding
2 NaCl 3% Sebagai larutan pembanding
3 Darah Bahan yang akan diamati
4 Aquades Sebagai larutan pembanding
  1. C.    Prosedur Kerja
    1. Menambahkan 3-5 tetes darah dalam tabung uji yang berisi 2 ml NaCl 0,9%
    2. Melakukan langkah 1 pada tabung uji kedua yang berisi 2 ml aquades
    3. Melakukan langkah 1 pada tabung uji ketiga yang berisi 2ml NaCl 0,3%
    4. Membandingkan  kecerahan dari ketiga larutan dalam tabung tersebut dengan mengamatinya dengan belakang kertas putih
    5. Mengambil sampel larutan sampel larutan dari masing-masing tabung uji dengan pipet, meneteskan masing-masing pada tabung kaca objek yang bersih, tutup dengan kaca penutup dan mengamatinya dengan perbesaran tinggi
    6. Menggambar penampakan sel darah pada ketiga preparat yang telah diamati

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A.    Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan kali ini adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Hasil pengamatan

NO Bahan

Warna

Gambar

1 NaCl 0,9% Merah keruh  
2 NaCl 0,3% Merah  
3 Aquades Merah transparan  

 

 

 

 

 

  1. B.     Pembahasan

hemolitik adalah anemia yang disebabkan karena meningkatnya kecepatan destruksi eritrosit. Umur eritrosit rata-rata 120 hari. Pada anemia hemolitik eritrosit hanya bertahan untuk beberapa hari.Penyebab anemia hemolitik dapat disebabkan oleh 2 faktor yang berbeda yaitu faktor intrinsik & faktor ekstrinsik. Faktor intrinsic yaitu kelainan yang terjadi pada sel eritrosit. Kelainan karena faktor ini dibagi menjadi tiga macam yaitu karena kekurangan bahan baku pembuat eritrosit, karena kelainan eritrosit yang bersifat kongenital contohnya thalasemia & sferosis congenital, dan abnormalitas dari enzim dalam eritrosit. Faktor ekstrinsik yaitu kelainan yang terjadi karena hal-hal diluar eritrosit. Dapat terjadi akibat reaksi non imunitas : karena bahan kimia / obat, akibat reaksi imunitas : karena eritrosit yang dibunuh oleh antibodi yang dibentuk oleh tubuh sendiri. Tanda terjadinya hemolisis yaitu terjadi penghancuran eritrosit yang berlebihan akan menunjukan tanda-tanda yang khas yaitu:

1. Perubahan metabolisme bilirubin dan urobilin yang merupakan hasil pemecahan eritrosit. Peningkatan zat tersebut akan dapat terlihat pada hasil ekskresi yaitu urin dan feses.

2. Hemoglobinemia : adanya hemoglobin dalam plasma yang seharusnya tidak ada karena hemoglobin terikat pada eritrosit. Pemecahan eritrosit yang berlebihan akan membuat hemoglobin dilepaskan kedalam plasma. Jumlah hemoglobin yang tidak dapat diakomodasi seluruhnya oleh sistem keseimbangan darah akan menyebabkan hemoglobinemia.

3. Masa hidup eritrosit memendek karena penghancuran yang berlebih.

4. Retikulositosis : produksi eritrosit yang meningkat sebagai kompensasi banyaknya eritrosit yang hancur sehingga sel muda seperti retikulosit banyak ditemukan.

Pada praktikum kali ini yang diamati adalah proses hemolisis dan krenasi yang terdapat di dalam sel darah merah atau eritrosit. Pada tabung pertama yang telah di isi dengan larutan NaCl 0,9% sebanyak 2 ml dan beberapa tetes  darah  memperlihatkan warna merah/coklat keruh dengan penampakan eritrositnya yang memperlihatkan bentuk bikonkaf, bentuk umum dari sebuah eritrosit. Hal ini menunjukkan eritrosit pada perlakuan ini tidak berubah sama sekali setelah diberi perlakuan disebabkan larutan didalam dan diluar sel sama yaitu 0,9% .

Pada tabung ke dua yang telah di isi dengan larutan NaCl 3% dan beberapa tetes darah memperlihatkan warna merah kecoklatan dengan penampakan eritrositnya yang mengkerut. Hal ini menunjukkan bahwa eritrosit dalam perlakuan kali ini mengalami proses krenasi yang disebabkan oleh larutan di luar eritrosit bersifat hypertonik, yang memaksa sitoplasma di dalam sel tertarik keluar karena perbedaan tekanan osmosis di dalam dan di luar eritrosit. Hal yang sama juga akan terjadi kika darah didedahakan pada larutan gula 10%, eritrosit akan mengkerut karena kekurangan air sehinnga menyebabkan warna darah menjadi merah pekat/kecoklatan.

Pada tabung ke tiga yang telah di isi aquades dan beberapa tetes darah memperlihatkan warna merah transparan dengan penampakn eritrositnya yang bengkak. Hal ini menunjukkan bahwa eritrosit dalam perlakuan kali ini mengalami proses hemolisis yang disebabkan oleh larutan di luar eritrosit bersifat hipotonis sehingga larutan di luar sel  menembus membran plasma eritosit yang berada dalam kondisi yang hipertonis menyebabkan eritrosit membengkak kemuadian pecah(lisis). Kejadian ini berlangsung di sebabkan eritrosit dalam suatu mahluk hidup selalu berusaha berada dalam kondisi yang homeostasis(seimbang), sehingga mendorong sel untuk melakukan transport antar membran.

Hemolisis juga dapat berlangsung oleh hal-hal lain, misalnya oleh deterjen, bisa ular atau plasma yang berbeda spesies. Selain itu setiap eritrosit memiliki kepekaan   yang berbeda-bed untuk menjadi hemolisis. Dengan kata lain eritrosit memiliki sifat fragilitas tertentu. Fragilitas ini dapat berubah karena penyakit tertentu.

 

 

 

 

 

V. PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan:

1. peristiwa hemolisis dan krenasi.

2. Krenasi terjadi pada larutan NaCl 0,9 % dan hemolisis terjadi pada

    larutan 3%.

3. Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga

    hemoglobin bebas ke dalam medium sekelilingnya plasma.

4. Krenasi terjadi bila eritrosit berada pada medium yang hipertonis,

    maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit

    (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi).

 

 

  1. B.     Saran

Saran yang dapat saya ajukan adalah agar lebih mengefisiensikan waktu lagi.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ganong, W.F, 1983, Fisiologi Kedokteran, EGC, Jakarta.

Ganong, WF. 2005 Review of Medical Physiology. 22th Edition, Appleton & Lange A Simon & Schuster Co, Los Altos, California.

 

Junqueira, L. C., J. Carneiro, R. O. Keley, 1999, Basic Histology, Appleton and Lange, London.

 

Price, 1984, Patofisiologi konsep klinik proses-proses penyakit, Edisi 2,EGC,Jakarta.

 

Suryo. 2005. Genetika Manusia. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

 

Underwood, 1999, patologi umum dan sistematik, EGC, Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 9, 2012 in Kumpulan Laporan Biologi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: