RSS

FISIOLOGI HEWAN: Bintik Buta

09 Mei

I. PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang

Mata adalah organ indera yang kompleks.  Di mata terdapat reseptor khusus cahya yang disebut fotoreseptor.  Setiap mata mempunyai suatu lapisan reseptor, yaitu suatu sistem lensa untuk memusatkan cahaya pada reseptor, dan sistem saraf untuk menghantarkan impuls dari reseptor ke otak.

Setiap individu mempunyai jarak bintik buta yang berbeda dengan individu lainnya saat melihat obyek.  Saat kita tidak dapat melihat suatu obyek pada jarak tertentu, maka itulah jarak titik buta.  Sebagaimana kita ketahui bersama semua impuls saraf yang dibangkitkan oleh batang dan kerucut.  Sel batang dan kerucut merupakan bagian retina yang mampu menerima rangsang sinar tak berwarna (sel batang) dan mampu menerima rangsang sinar kuat dan berwarna (sel kerucut).  Sel batang dan kerucut ini berjalan kembali ke otak melalui neuron dalam saraf optik, oleh karena itu obyek dapat ditebak bentuknya.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka kami hendak melakukan praktikum yang berjudul, “Bintik Buta”.

 

B. Rumusan Masalah

            Rumusan masalah dalam penyusunan laporan ini adalah bagaimna membuktikan adanya bintik buta?

 

 

C. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah  untuk membuktikan adanya bintik buta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

Kemampuan sistem penglihatan untuk mengetahui susunan ruang pandang penglihatan, yaitu, untuk mendeteksi bentuk obyek, kecemerlangan masing-masing bagian obyek, pembuatan bayangan, dan sebagainya tergantung pada fungsi korteks penglihatan primer.  Daerah ini terutama terletak pada fisura kalkarina yang secara bilateral terdapat pada permukaan medial masing-masing korteks oksipitalis.  Pada setiap titik pada pandangan penglihatan, tempat terdapat perubahan dari gelap keterang atau dari terang kegelap, daerah korteks primer penglihatan yang sesuai terangsang.  Intensitas perangsangan ditentukan oleh selisih kontras.  Yaitu, makin nyata batas kontras dan makin besar selisih intensitas antara daerah terang dan gelap, makin besar.  Jadi, bentuk kontras pada pandangan penglihatan dikesankan pada neuron korteks penglihatan, dan bentuk ini mempunyai orientasi ruang yang secara kasar sama seperti bayangan retina (Guyton, 1988). 

Mata berbagai kelompok vertebrata berbeda dalam adaptasi untuk melihat dalam air, di udara dan di bawah cahaya dengan intensitas yang berbeda, tetapi ciri-ciri utamanya sama.  Analogi antara mata vertebrata dan kamera adalah sempurna.  Mata mempunyai lensa yang dapat difokuskan untuk jarak yang berbeda-beda, suatu diafragma (iris) yang mengatur lubang cahaya (pupil) dan kepekaan cahaya retina yang terletak di bagian belakang mata dan sama dengan film pada kamera (Villee, 1999).

Mata manusia berbentuk agak bulat.  Mata tersebut dibalut oleh tiga lapis jaringan yang berlainan.  Lapisan luar, yaitu lapisan sklera, sangat kuat.  Lapisan tengah mata, yaitu lapisan koroid, amat berpigmen dan melanin dan sangat banyak berpembuluh darah.  Lapisan ini berfungsi untuk menghentikan refleksi berkas cahaya yang menyimpang di dalam mata.  Lapisan dalam mata ialah retina.  Retina terdiri atas reseptor cahaya yang sesungguhnya, yaitu batang dan kerucut (Kimbal, 1983).

Retina adalah lapisan saraf pada mata, yang terdiri dari sejumlah lapisan serabut, yaitu sel-sel saraf, batang dan kerucut.  Semuanya termaksuk dalam kontraksi retina, yang merupakan jaringan saraf halus yang menghantarkan  impuls saraf dari luar menuju diskus optik, yang merupakan titik dimana saraf optik meninggalkan biji mata.  Titik ini disebut titik buta, oleh karena tidak mempunyai retina.  Bagian yang paling peka adalah maluka yang terletak tepat eksternal terhadap diskus optik persis berhadapan dengan pusat pupil (Pearce, 1999).

 

 

 

 

 

 

 

 

III. METODE PRAKTIKUM

 

A.  Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada Sabtu tanggal 16 April 2011, pukul 13.00 WITA sampai selesai. Dan berlangsung di Laboratorium Fisiologi Jurusan Biologi FMIPA Unhalu, Kendari.

 

B. Alat dan Bahan

            Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Alat dan kegunaan yang digunakan dalam praktikum bintik buta.

No.

Alat

Fungsi

1.

 Pulpen Sebagai alat tulis

2.

Mistar Untuk mengukur jarak terjadinya bintik buta antara volunter dengan obyek.

 

Tabel 2. Bahan dan kegunaan yang digunakan dalam praktikum bintik buta.

 

No.

Bahan

Fungsi

1.

Kertas putih bertanda + dan O Sebagai objek yang diamati.

 

 

 

 

 

 

C. Prosedur Kerja

            Prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :

  1. Membuat pada sehelai kertas kuarto tulisan bertanda + dan O
  2. Metakkan kertas bertanda tersebut pad jarak ± 40 cm di depan mata, kemudian menutup mata kiri. 
  3. Memfokuskan penglihatan pada tanda +.  Pada jarak ini tanda + dan O masih terlihat.
  4. Menggeser secar perlahan-lahan kertas mendekati mata, hingga tanda lingkaran tidak terlihat lagi (penglihatan tetap fokus ketanda +).
  5. Menggeser kembali kertas mendekati mata dan tanda lingkaran akan terlihat kembali.
  6. Mengulangi langkah di atas dengan menutup mata kanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B. Pembahasan

Reseptor adalah bagian tubuh yang berfungsi sebagai penerima rangsangan. Bagian yang berfungsi sebagai penerima rangsangan tersebut adalah indra. Konduktor adalah bagian tubuh yang berfungsi sebagai penghantar rangsangan. Bagian tersebut adalah sel-sel saraf (neuron) yang membentuk system saraf. Sel-sel saraf ini ada yang berfungsi membawa rangsangan ke pusat saraf ada juga yang membawa pesan dari pusat saraf. Efektor adalah bagian tubuh yang menanggapi rangsangan, yaitu otot dan kelenjar (baik kelenjar endokrin dan kelenjar eksokrin).

        Ketiga hal ini mempengaruhi sangat besar pada system kerja dan kordinasi mata. Bintik buta yaitu merupakan suatu bagian dari mata yang berfungsi sebagai daerah tempat saraf optik meninggalkan bagian dalam bola mata dan tidak mengandung sel konus dan batang. 

 Saat kita tidak dapat melihat suatu obyek pada jarak tertentu, maka itulah jarak titik buta. Setiap individu mempunyai jarak bintik buta yang berbeda dengan individu lainnya saat melihat obyek. Sebagaimana kita ketahui bersama semua impuls saraf yang dibangkitkan oleh batang dan kerucut.  Sel batang dan kerucut merupakan bagian retina yang mampu menerima rangsang sinar tak berwarna (sel batang) dan mampu menerima rangsang sinar kuat dan berwarna (sel kerucut).

 

 

 Sel batang dan kerucut ini berjalan kembali ke otak melalui neuron dalam saraf optik, oleh karena itu obyek dapat ditebak bentuknya. Tidak terlihatnya obyek dengan jarak tertentu disebabkan karena pada bagian retina terdapat suatu titik tempat kira-kira satu juta neuron bertemu pada saraf optik, tidak terdapat sel batang dan kerucut.  Titik inilah yang disebut titik buta, dimana seseorang tidak dapat melihat obyek pada jarak tertentu.

Pada praktikum yang dilakukan terlihat bahwa bintik buta banyak terjadi pada setiap kalangan baik itu wanita maupun pria. Jadi ada suatu titik dimana mata kita tidak dapat memfokuskan atau melihat benda dengan jelas sehingga benda tersebut menjadi tidak terlihat. Bintik buta ini dapat dipengaruhi karena seseorang mengkonsumsi rokok. Seperti yang kita ketahui kalau rokok bila dikonsumsi banyak menyebabkan penyakit berbahaya. Salah satunya ialah bertambahnya jarak bintik buta yang kita punya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V. PENUTUP

A.  Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat bintik buta baik pada mata kanan maupun pada mata kiri namun jarak bintik buta antara kedua mata ini berbeda. Selain itu bintik buta juga dipengaruhi oleh konsumsi rokok yang berlebihan, hal ini dapat dilihat pada pengamatan praktikum ini.

 

  1. B.     Saran

            Saran yang diajukan pada praktikum kali ini adalah hendaknya tiap praktikan memperhatikan semua penjelasan dari asistennya agar dalam melaksanakan praktikum mengerti semua yang dikerjakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Guyton, 1988. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. EGC Kedokteran.Jakarta.

 

Kimball, John W. 1983. Biologi. Jilid 2. Ed ke-5. Terjemahan Siti Soetarmi Tjitrosomo & Nawangsari sugiri. Erlangga.Jakarta.

 

Pearce, C Evelyn. 1999. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. PT Gramedia Pustaka Utama.Jakarta.

 

Villee, Claude A., dkk. 1999. Zoologi Umum. Jilid I. Ed ke-6. Terjemahan Nawangsari sugiri. Erlangga.Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN FISIOLOGI HEWAN

”BINTIK BUTA”

 

 

 

O  L  E  H

 

NAMA                                          :  ARMADI CHAIRUNNAS

STAMBUK                                   :  F1D1 08020

PROG.STUDI                               :  BIOLOGI

JURUSAN                                  :  BIOLOGI

KELOMPOK                                 :  III (TIGA)

ASISTEN PEMBIMBING                   :  AGUS RINAL

                                                                                                              

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

                                                     UNIVERSITAS HALUOLEO                      

KENDARI

2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 9, 2012 in Kumpulan Laporan Biologi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: