RSS

FISIOLOGI HEWAN: Waktu Koagulasi Darah

I. PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang

Darah sebagai jaringan khusus yang menjalani sirkulasi, terdiri dari sel-sel yang terendam dalam plasma darah. Berbeda dengan jaringan lain, sel-selnya tidak menempati ruang tetap satu dengan yang lain, tetapi bergerak terus dari satu tempat ke tempat lain. Aliran darah dalam seluruh tubuh menjamin lingkungan yang tetap, agar semua sel serta jaringan mampu melaksanakan fungsi berbagai bentuk sel darah berasal dari sel induk (stem cell) dalam sumsum tulang dan memasuki aliran darah untuk memenuhi kebutuhan tertentu pada hewan.

Darah manusia terdiri atas 2 komponen utama, yaitu sel-sel darah dan plasma darah. Sel-sel darah ada 3 macam, yaitu eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (sel pembeku darah atau keping-keping darah).

Secara umum, volume total darah mamalia umumnya berkisar antara 7 samapi 8 % dari berat badan. Bahan antarsel atau plasma darah, berkisar antara 45 samapi 65 % dari seluruh isi darah, sedangkan sisanya 35 sampai 55 % diisi sel darah atau benda darah. Hal ini hampir sama pada manusia, dimana dalam kondisi normal volume darah lebih kurang 8 % dari berat badannya. Pada orang dewasa yang beratnya 65 Kg, volume darahnya lebih kurang 5 liter.

 

 

 

 

B. Rumusan Masalah

            Rumusan masalah dalam laporan praktikum ini adalah Bagaimana cara menentukan waktu untuk koagulasi darah dengan metode slide, tabung kapiler dan menentukan waktu pendarahan ?

 

C. Tujuan Praktikum

            Tujuan  praktikum ini adalah untuk  cara menentukan waktu untuk koagulasi darah dengan metode slide, tabung kapiler dan menentukan waktu pendarahan.

 

D. Manfaat Praktikum

            Manfaat  praktikum ini adalah untuk  cara menentukan waktu untuk koagulasi darah dengan metode slide, tabung kapiler dan menentukan waktu pendarahan.

 

 

 

 

 

 

 

II. LANDASAN TEORI

 

Bila pembuluh darah dipotong atau dirobek, sangat penting untuk menghentikan keluarnya darah dari system sebelum berakhir dengan kegoncangan atau kematian. Pemadatan atau pembekuan darah mampu menghentikan semua perdarahan ini kecuali pada pembuluh darah yang rusak  keeping darah  melekat pada permukaan dalam dinding pembuluh tersebut. Pembuluh darah dan sel-sel darah rusak di daerah ini melepaskan bahan bersifat lemak yang diaktifkan oleh protein-protein tertentu (faktor pembekuan) di dalam darah membentuk “tromboplastin”. Dengan adanya ion kalsium dan faktor pembeku tambahan protombin (suatu globulin serum yang di buat terus menerus oleh hati) menjadi trombin (Kimball, 1983 : 536).

Pembekuan atau penggumpalan darah atau disebut juga koagulasi terjadi apabila darah ditampung dan di biarkan begitu saja, akan terjadi suatumassayang menyerupai gel yang kemudian menjadimassayang memadat dengan meninggalkan cairan jernih yang disebut serum darah. Kumpulan ini terjadi dari filament-filamen fibria yang mengikat sel darah merah. Sel darah merah platelef (Hoffbrand, 1987 : 206).

Koagulasi darah atau pembekuan darah adalah transformasi darah dari cairan menjadi gel padat. Pembentukan bekuan di atas sumbat trombosit memperkuat dan menunjang sumbat, memperkuat tambalan yang menutupi lubang-lubang si pembuluh. Selain itu seirng dengan memadatnya darah disekitar defek pembuluh, darah tidak lagi dapat mengalir (Sherwood, 1986 : 357).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. METODE PRAKTIKUM

 

      A.  Waktu dan Tempat

                  Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 9 April 2011 pada pukul 13.00 WITA sampai selesai. Bertempat di Laboratorium Fisiologi Biologi Fakultas MIPA Unhalu Kendari.

 

      B.  Alat dan Bahan

            1. Alat

No.

Nama  Alat

Fungsi

1.

2.

3.

4.

 

Blood lancet

Kapas steril

Kaca obbjek

Jarum

 

Untuk membuat luka pada ujung jari

Untuk membersihkan luka

Untuk tempat preparat

Untuk melihat terjadinya koagulasi

 

2. Bahan

Bahan yang digunakan adalah darah yang berfungsi untuk objek penelitian dan alkohol 70% untuk mensterilkan tangan

 

 

 

 

C. Prosedur Kerja

     a. Waktu koagulasi darah dengan metode slide :

– Membersihkan ujung jari dengan alkohol  70% biarkan hingga mongering

– Menusukkan dengan blood lancet steril, dibuang tetesan pertama

– Mencatat waktu pertama kali  darah keluar sebagai waktu koagulasi ke 0

– Meneteskan darah di atas kaca objek

– Dengan interval pengamatan setengah menit, periksa proses koagulasinya dengan menusukan ujung jarum ke dalam tetesan darah

– Mengulangi langkah 5 hingga anda temukan bentukan benang darah pada ujung jarum, saat inilah koagulasi terjadi. Kadangkala waktu koagulasi dinyatakan pada saat keseluruhan tetesan darah mulai membentuk gel.

– Mencatat waktu koagulasinya.

 

b. Waktu pendarahan :

– Membersihkan ujung jari dengan alkohol 70% dan membuat luka dengan menggunakan Blood lancet steril.

– Mencatat waktu pertama kali darah keluar

– Dengan menggunakan kertas hisap yang telah dipotong kecil, setiap 30 detik usaplah luka, hingga pendarahan terhenti. Hitung jumlah potongan kertas hisap yang anda dapatkan, jumlah kertas hisap yang diperoleh dibagi dua menunjukan waktu perdarahan permenit.

– Mencatat hasil pengamatan.    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A.  Hasil Pengamatan

            1. Waktu Koagulasi Darah

No Sampel

Waktu koagulasi

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1. Nopriati            
2. Akmal
3. Hasrah    
4. Ali Arfai          
5. Titiek      

 

* Analisis data :

            1. Nopriati       =  7 / 2

                                    = 3,5  menit

            2. Akmal         =  13 / 2

                                    = 6,5  menit

            3. Hasrah         =  11 / 2

                                    = 5,5  menit

            4. Aliarfai        =  8 / 2

                                    = 4  menit

            5. Titiek           =  10 / 2

                                    = 5  menit

 

            2. Waktu Pendarahan

No. Sampel

Waktu pendarahan

1 2 3 4 5 6 7
1. Titiek
2. Agusrinal    
3. Ali Arfai        
4. Agus Nuryati        

 

* Analisis data :

            1. Titiek           =  7 / 2

                                    = 3,5  menit

            2. Agusrinal     =  5 / 2

                                    = 2,5  menit

            3. Aliarfai        =  3 / 2

                                    = 1,5  menit

            4. Agus Nurlyati   =  3 / 2

                                         = 1,5  men

 

B. PEMBAHASAN

 Darah merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut plasma. Secara keseluruhahan darah dapat dianggapsebagai jaringan pengikat dalam arti luas, karena pada dasarnya terdiri dari unsur-unsur sel dan substansi intersululer yang berbentuk plasma. Secara fungsionalpun   merupakan jaringan pengikat dalam arti menghubungkan seluruh bagian-bagian dalam tubuh sehingga merupakan integritas.

Setiap orang mengetahui bahwa pendarahan pada akhirnya akan berhenti ketika terjadi luka atau terdapat luka lama yang mengeluarkan darah kembali. Saat pendarahan berlangsung, gumpalan darah beku akan segera terbentuk dan mengeras, dan luka pun pulih seketika. Sebuah kejadian yang mungkin tampak sederhana dan biasa saja di mata Anda, tapi tidak bagi para ahli biokimia. Penelitian mereka menunjukkan, peristiwa ini terjadi akibat bekerjanya sebuah sistem yang sangat rumit. Hilangnya satu bagian saja yang membentuk sistem ini, atau kerusakan sekecil apa pun padanya, akan menjadikan keseluruhan proses tidak berfungsi.
Darah harus membeku pada waktu dan tempat yang tepat, dan ketika keadaannya telah pulih seperti sediakala, darah beku tersebut harus lenyap. Sistem ini bekerja tanpa kesalahan sedikit pun hingga bagian-bagiannya yang terkecil.
Jika terjadi pendarahan, pembekuan darah harus segera terjadi demi mencegah kematian. Di samping itu, darah beku tersebut harus menutupi keseluruhan luka, dan yang lebih penting lagi, harus terbentuk tepat hanya pada lapisan paling atas yang menutupi luka. Jika pembekuan darah tidak terjadi pada saat dan tempat yang tepat, maka keseluruhan darah pada makhluk tersebut akan membeku dan berakibat pada kematian.

  • § Dalam proses pembekuan darah, diperlukan faktor-faktor pembekuan darah, antara lain:

(Sylvia A.Price &Lloraine M.Wilson.2003)

Factor VIII merupakan molekul kompleks yang terdiri atas tiga subunit yang berbeda:
1. Bagian prokoagulan yang mengandung factor antihemofilia , VIIIAHG, yang tidak dijumpai pada pasienpasien hemofilia klasik

2. Subunit lain yang mengandung tempat antigenic

3. Factor Von Willebrand, VIIIVWF, yang diperlukan untuk adhesi trombosit pada dinding pembuluh darah. Faktor Von Willebrand terus-menerus mengalir dan berlalu-lalang ke seluruh penjuru aliran darah. Protein ini berpatroli, dengan kata lain bertugas memastikan bahwa tidak ada luka yang terlewatkan oleh trombosit.
Selain itu masih ada Prakalikrein dan kininogen dengan berat molekul tinggi (HMWK), bersama factor XII dan XI, disebut factor-faktor kontak dan diaktivasi pada saat cedera dengan berkontak dengan permukaan jaringan, factor-faktor tersebut berperan dalam pemecahan bekuan-bekuan pada saat terbentuk. (Sylvia A.Price &Lloraine M.Wilson.,2003.)

Aktivasi factor-faktor koagulasi diyakini terjadi karena enzim-enzim memecahkan fragmen bentuk precursor yang tidak aktif, oleh karena itu disebut prokoagulan. Tiap factor yang diaktivasi, kecuali factor V, VIII, XIII, dan I (fibrinogen), merupakan enzim pemecah protein (protease serin), yang mengaktivasi prokoagulan berikutnya. (Sylvia A.Price &Lloraine M.Wilson.,2003.)

Proses pembekuan darah yang normal mempunyai 3 tahap yaitu

1. Fase koagulasi

Koagulasi diawali dalam keadaan homeostasis dengan adanya cedera vascular. Vasokonstriksi merupakan respon segera terhadap cedera, yang diikuti dengan adhesi trombosit pada kolagen pada dinding pembuluh yang terpajan dengan cedera. Trombosit yang terjerat di tempat terjadinya luka mengeluarkan suatu zat yang dapat mengumpulkan trombosit-trombosit lain di tempat tersebut. Kemudian ADP dilepas oleh trombosit, menyebabkan agregasi trombosit. Sejumlah kecil trombin juga merangsang agregasi trombosit, bekerja memperkuat reaksi. Trombin adalah protein lain yang membantu pembekuan darah. Zat ini dihasilkan hanya di tempat yang terluka, dan dalam jumlah yang tidak boleh lebih atau kurang dari keperluan. Selain itu, produksi trombin harus dimulai dan berakhir tepat pada saat yang diperlukan. Dalam tubuh terdapat lebih dari dua puluh zat kimia yang disebut enzim yang berperan dalam pembentukan trombin. Enzim ini dapat merangsang ataupun bekerja sebaliknya, yakni menghambat pembentukan trombin. Proses ini terjadi melalui pengawasan yang cukup ketat sehingga trombin hanya terbentuk saat benar-benar terjadi luka pada jaringan tubuh. Factor III trombosit, dari membrane trombosit juga mempercepat pembekuan plasma. Dengan cara ini, terbentuklah sumbatan trombosit, kemudian segera diperkuat oleh protein filamentosa (fibrin). (Sylvia A.Price &Lloraine M.Wilson.,2003)

Produksi fibrin dimulai dengan perubahan factor X menjadi Xa, seiring dengan terbentuknya bentuk aktif suatu factor. Factor X dapat diaktivasi melalui dua rangkaian reaksi. Rangkaian pertama memerlukan factor jaringan, atau tromboplastin jaringan, yang dilepaskan oleh endotel pembuluh darah pada saat cedera.. karena factor jaringan tidak terdapat di dalam darah, maka factor ini merupakan factor ekstrinsik koagulasi, dengan demikian disebut juga jalur ekstrinsik untuk rangkaian ini. (Sylvia A.Price &Lloraine M.Wilson.,2003.)

Rangkaian lainnya yang menyebabkan aktivasi factor X adalah jalur intrinsic, disebut demikian karena rangkaian ini menggunakan factor-faktor yang terdapat dalam system vascular plasma. Dalam rangkaian ini, terjadi reaksi “kaskade”, aktivasi satu prokoagulan menyebabkan aktivasi bentuk pengganti. Jalur intrinsic ini diawali dengan plasma yang keluar terpajan dengan kulit atau kolagen di dalam pembuluh darah yang rusak. Factor jaringan tidak diperlukan, tetapi trombosit yang melekat pada kolagen berperan. Faktor XII, XI, dan IX harus diaktivasi secara berurutan, dan faktor VIII harus dilibatkan sebelum faktor X dapat diaktivasi. Zat-zat prakalikrein dan HMWK juga turut berpartisipasi, dan diperlukan ion kalsium. (Sylvia A.Price &Lloraine M.Wilson.,2003)

Dari hal ini, koagulasi terjadi di sepanjang apa yang dinamakan jalur bersama. Aktivasi aktor X dapat terjadi sebagai akibat reaksi jalur ekstrinsik atau intrinsik. Pengalaman klinis menunjukkan bahwa kedua jalur tersebut berperan dalam hemostasis. Langkah selanjutnya pada pembentukan fibrin berlangsung jika faktor Xa, dibantu fosfolipid dari trombosit yang diaktivasi, memecah protrombin, membentuk trombin. Selanjutnya trombin memecahkan fibrinogen membentuk fibrin. Fibrin ini pada awalnya merupakan jeli yang dapat larut, distabilkan oleh faktor XIIIa dan mengalami polimerasi menjadi jalinan fibrin yang kuat, trombosit, dan memerangkap sel-sel darah. Untaian fibrin kemudian memendek (retraksi bekuan), mendekatkan tepi-tepi dinding pembuluh darah yang cederadan menutup daerah tersebut. (Sylvia A.Price &Lloraine M.Wilson.,2003.)

2. Penghentian pembentukan bekuan

Setelah pembentukan bekuan, sangat penting untuk melakukan pengakhiran pembekuan darah lebih lanjut untuk menghindari kejadian trombotik yang tidak diinginkan.yang disebabkan oleh pembentukan bekuan sistemik yang berlebihan. Antikoagulan yang terjadi secara alami meliputi antitrombin III (ko-faktor heparin), protein C dan protein S. Antitrombin III bersirkulasi secara bebas di dalam plasma dan menghambat sistem prokoagulan, dengan mengikat trombin serta mengaktivasi faktor Xa, IXa, dan XIa, menetralisasi aktivitasnya dan menghambat pembekuan. Protein C, suatu polipeptida, juga merupakan suatu antikoagulan fisiologi yang dihasilkan oleh hati, dan beredar secara bebas dalam bentuk inaktif dan diaktivasi menjadi protein Ca. Protein C yang diaktivasi menginaktivasi protrombin dan jalur intrinsik dengan membelah dan menginaktivasi faktor Va dan VIIIa. Protein S mempercepat inaktivasi faktor-faktor itu oleh protein protein C. Trombomodulin, suatu zat yang dihasilkan oleh dinding pembuluh darah, diperlukan untuk menimbulkan pengaruh netralisasi yang tercatat sebelumnya. Defisiensi protein C dan S menyebabkan spisode trombotik. Individu dengan faktor V Leiden resisten terhadap degradasi oleh protein C yang diaktivasi. (Sylvia A.Price &Lloraine M.Wilson.,2003.)

3. Resolusi bekuan

Sistem fibrinolitik merupakan rangkaian yang fibrinnya dipecahkan oleh plasmin (fibrinolisin) menjadi produk-produk degradasi fibrin, menyebabkan hancurnya bekuan. Diperlukan beberapa interaksi untuk mengubah protein plasma spesifik inaktif di dalam sirkulasi menjadi enzim fibrinolitik plasmin aktif. Protein dalam bersirkulasi, yang dikenal sebagai proaktivator plasminogen, dengan adanya enzim-enzim kinase seperti streptokinase, stafilokinase, kinase jaringan, serta faktor XIIa, dikatalisasi menjadi aktivator plasminogen. Dengan adanya enzim-enzim tambahan seperti urokinase, maka aktivator-aktivator mengubah plasminogen, suatu protein plasma yang sudah bergabung dalam bekuan fibrin, menjadi plasmin. Kemudian plasmin memecahkan fibrin dan fibrinogen menjadi fragmen-fragmen (produk degradasi fibrin-fibrinogen), yang mengganggu aktivitas trombin, fungsi trombosit, dan polimerisasi fibrin, menyebabkan hancurnya bekuan. Makrofag dan neutrofil juga berperan dalam fibrinolisis melalui aktivitas fagositiknya. (Sylvia A.Price &Lloraine M.Wilson.,2003.)

 

Dari hasil pengamatan tarlihat bahawa waktu koagulasi terjadi pada saat 18 detik setelah darah di diamkan. Sementara waktu pendarahan normal berlangsung antara 1-3 menit, diartikan sebagai waktu yang diperlukan untuk menghentikan proses perdarahan dari sebuah luka sayatan kecil.Meskipun waktu tersebut sangat di pengaruhi oleh kedalaman luka dan derajat hyperemia jari yang berkaitan dengan keberadaan faktor-faktor pembekuan darah.

Pada pengamatan waktu pendarahan  terjadi pada saat 1menit setelah membuat luka pada jari. Ini di dapat dari hasil perdarahan pertama di bagi dengan 2 kemudian hasilnya dikalikan dengan 30 detik. Dimana waktu awal pendarahan adalah 4 detik.

 

 

 

 

V. PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik yaitu waktu koagulasi yaitu waktu yang diperlukan sampel darah yang dikeluarkan dari tubuh untuk membeku.

 

B. Saran

            Saran saya pada praktikum ini adalah agar untuk praktikum selanjutnya dapat lebih ditingkatkan lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dietor, delman H. 1992. Histologi veterinner. UI Press : Jakarta
Hoffbrand. 1987. Metode Praktikum Sistematik Hewan. Erlangga.Jakarta.

 

Kimball, John W. 1983. Biologi Edisi kelima Jilid 2. Erlangga.Jakarta.

Sherwood, Laurancee. 1986. Fisiologi Manusia. Exakta Ganeca.Jakarta.

Sutarmi H. Siti. Biologi jilid 2. IPB : Bogor

 

Wulangi S. Kartolo. 1993. Prinsip-prinsip fisiologo hewan. Jurusan biolobi. ITB:

        Bandung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN FISIOLOGI HEWAN

”WAKTU PENDARAHAN DAN PEMBEKUAN DARAH”

 

 

 

O  L  E  H

 

NAMA                            :  ARMADI CHAIRUNNAS

STAMBUK                     :  F1D1 08020

PROG.STUDI                 :  BIOLOGI

JURUSAN                      :  BIOLOGI

KELOMPOK                             :  III (TIGA)

ASISTEN PEMBIMBING        :  AGUS RINAL

                                                                  

 

 

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

                            UNIVERSITAS HALUOLEO       

KENDARI

                                             2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 9, 2012 in Kumpulan Laporan Biologi

 

FISIOLOGI HEWAN: Volume Respirasi

I. PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang

Manusia memiliki alat pernapasan utama berupa paru-paru dan dibantu alat-alat pernapasan lain berupa rongga hidung , farink, larink, dan trakea. Namun, pusat kontrol pernapasan terletak pada paru-paru yang berada dalam rongga dada, dibatasi oleh tulang rusuk dan otot dada, bagian bawah dibatasi oleh otot diafragma yang kuat. Paru-paru merupakan himpunan dari bronkiolus, saccus alveolaris, dan alveolus.

Bernapas adalah proses pengambilan udara pernafasan dari luar untuk dibawa masuk ke dalam paru-paru dan proses pengeluaran gas sisa ke udara bebas. Pada waktu bernapas, berlangsung kegiatan ekspirasi dan inspirasi sebanyak 15 samapi 18 kali. Oleh karena itu, berdasarkan otot yang berperan aktif  pada proses pernapasan, poernapasan pada manusia dapat dibedakan menjadi pernapasan perut dan pernapasan dada. Gerakan pernapasan diatur oleh pusat pernapasan diotak, sedangkan aktivitas saraf pernapasan dirangsang oleh stimulus (rangsangan) dari karbon dioksida (CO2).

 

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam praktikum ini adalah bagaimana cara menentukan volume respirasi dengan menggunakan spirometer?

 

C. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui  kecepatan pernapasan per menit dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

D. Manfaat Praktikum

Adapun manfaat  dari praktikum ini adalah dapat mengetahui  kecepatan pernapasan per menit dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

Gerakan pernafasan merupakan suatu siklus dan dikontrol oleh pusat pernafasan dalam otak. Neuron inspirasi di dalam pusat ini mempunyai irama tetap dan aktif setiap bebrapa detik dan mengirimkan impuls saraf ke otot pernafasan setelah inaktif beberapa detik, kemudian diaktifkan kembali. Aktivitas neuron ini sudah cukup untuk pernafasan yang tenang, tetapi banyak faktor yang dapat mempengaruhi aktivitasnya. Yang terpenting adalah kadar karbondioksida dan kadar ion hidrogen dalam darah (Camroe, 1966: 175).

Secara fungsional, saluran pernafasan dapat dibagi dalam bagian penghantar (conducting portion), yang terdiri dari rongga-rongga dan pipa-pipa yang membawa udara dari luar tubuh ke semua bagian paru-paru, dan suatu bagian pernafasan (respiratory portion) yang terdiri dari bagian-bagian di dalam paru-pari di mana terjadi pertukaran gas natara udara dan darah. Secara anatomis, jalan lalu lintasnya terdiri dari bangunan-bangunan di luar paru-paru (hidung, nasofaring, larink, trakea, dan bronki utama) dan di dalam paru-paru (bronki kecil, bronkioli, bronkioli terminal). Tipa bronkiolus pernafasan bercabang menjadi suatu sistem saluran-saluran alveoler dan alveolus-alveolus di mana terjadi pertukaran gas (Bevelander, 1988: 299).

Daerah permukaan yang diberikan oleh alveolus cukup untuk memelihara kebutuhan gas dalam badan dalam keadaan istirahat maupun pada waktu bekerja. Walaupun demkian dalam keadaan tertentu, daerah pertukaran gas dari paru-paru yang benar-benar berkurang. Misalnya, infeksi oleh virus atau bakteri pada alveolus yang mengakibatkan radang paru-paru (pneumonia). Lalu terjadinya respirasi sel bervariasi dengan keadaan umum aktivitas badan. Bergeraknya badan dengan giat meningkatkan kebutuhan O2 untuk jaringan 20-25 kali. Kebutuhan O2 yang meningkat ini dipenuhi dengan meningkatkan laju dan dalamnya pernafasan (Kimball, 1983: 462).

Pernafasan seseorang adalah sangat spesifik, oleh sebab itu dalam hal irama/ritme pernafasanpun akan berbeda-beda. Selain itu perbedaan ini banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal (Adi, 2006: 10).

Ventilasi paru-paru mamalia dilkukan dengan mengubah besarnya ruang toraks sehingga mengubah tekanan dalam paru-paru. Paru-paru memiliki gerakan dinding dada karena paru-paru itu terpisah dan sekaligus disatukan dengan dinding dada oleh daya adhesif dari lapisan cairan tipis yang terdapat di dalam rongga pleura. Selama pengambilan udara, inspirasi, yang normal dan tenang, toraks menjadi sedikit lebih besar, tekanan intrapulmoner turun sekitar 1 mm Hg di bawah tekanan atmosfir, dan udara mengalir ke dalam paru-paru sampai tekanan intrapulmoner sama dengan tekanan atmosfir (Villee, 1999: 174).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. METODE PRAKTIKUM

 

A.  Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 2 April 2011, pada pukul 13.00 WITA sampai selesai. Praktikum ini berlangsung di Laboratorium Fisiologi FMIPA Biologi Unhalu  Kendari.

B.  Alat dan Bahan

a.  Alat

Alat

Fungsi

Counter Untuk menghitung kecepatan pernafasan per menit.

 

b.  Bahan

Pada praktikum ini tidak ada bahan yang digunakan.

 

C.  Prosedur kerja

1.  Menyediakan alat yang akan digunakan

2.  Menghitung volume tidal, volume cadangan ekspirasi, dan kapasitas vital dengan menggunakan respirometer.

3.   Mencatat volume pernapasan yang dicapai.

4.   Memasukkan data di laporan sementara.

 

 

 

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A.  Hasil Pengamatan

No

Nama

V.u.Tidal(cc)

V.u.Suplemen(cc)

V.u.Komplemen(cc)

KV(cc)

1.

Wira Rahardi

650

443

2007

3000

2.

Irjum

600

670

1530

2800

3.

Hastiyani.L

600

300

300

1200

4.

Sri Ayu Ningsih

420

300

1280

2000

 

– Analisis Data Probandus :

1. Wira Rahardi

– Volume udara komplemen (VUK)

  VUK = KV – (VT + VS)

            = 3000 – (650 + 443)

            = 3000 – 1093

            = 2007 cc

–  Volume cadangan inspirasi (VCI)

   VCI  =  KV – (VT + VK)

            =  3000 – (650 + 2007)

            = 3000 – 2657

            = 343 cc

– Volume inspirasi (KI)

   KI =  VCI + VT

        = 343 + 650

        = 993 cc

– Volume cadangan respirasi (VCR)

  VCR  = VT – KV

             = 650 – 3000

             = -2350 cc

– Kapasitas total (KT)

   KT   = VT + VK + VCI + KV + VCR

                        = 650 + 2007 + 343 + 3000 + (-2350)

                        = 3650 cc

2. Irjum

– Volume udara komplemen (VUK)

  VUK = KV – (VT + VS)

            = 2800 – (600 + 670)

            = 3000 – 1270

            = 1530 cc

–  Volume cadangan inspirasi (VCI)

   VCI  =  KV – (VT + VK)

            =  2800 – (600 + 1530)

            = 2800 – 2130

            = 670 cc

– Volume inspirasi (KI)

   KI =  VCI + VT

        = 670 + 600

        = 1270 cc

– Volume cadangan respirasi (VCR)

  VCR  = VT – KV

             = 600 – 2800

             = -2200 cc

– Kapasitas total (KT)

   KT   = VT + VK + VCI + KV + VCR

            = 600 + 1530 + 670 + 2800 + (-2200)

            = 4000 cc

3. Hastiyani. L

– Volume udara komplemen (VUK)

  VUK = KV – (VT + VS)

            = 1200 – (600 + 300)

            = 1200 – 900

            = 300 cc

–  Volume cadangan inspirasi (VCI)

   VCI  =  KV – (VT + VK)

            =  1200 – (600 + 300)

            = 1200 – 900

            = 300 cc

– Volume inspirasi (KI)

   KI =  VCI + VT

        = 300 + 600

        = 900 cc

– Volume cadangan respirasi (VCR)

  VCR  = VT – KV

             = 600 – 1200

             = -600 cc

– Kapasitas total (KT)

   KT   = VT + VK + VCI + KV + VCR

            = 600 + 300 + 300 + 1200 + (-600)

            = 1800 cc

4. Sri Ayu Ningsih

– Volume udara komplemen (VUK)

  VUK = KV – (VT + VS)

            = 2000 – (420 + 300)

            = 2000 – 720

            = 1280 cc

–  Volume cadangan inspirasi (VCI)

   VCI  =  KV – (VT + VK)

            =  2000 – (420 + 1280)

            = 2000 – 1700

            = 300 cc

– Volume inspirasi (KI)

   KI =  VCI + VT

        = 300 + 420

        = 720 cc

– Volume cadangan respirasi (VCR)

  VCR  = VT – KV

             = 420 – 2000

             = -1580 cc

– Kapasitas total (KT)

   KT   = VT + VK + VCI + KV + VCR

           = 420 + 1280 + 300 + 2000 + (-1580)

           = 2420 cc

     B.  Pembahasan

Sistem respirasi bersama dengan sistem sirkulasi merupakan alat pertukaran gas utama antara tubuh dengan lingkunganya serta transport dari dan menuju sel-sel. Secara anatomi sistem ini dapat dibagi menurut letaknya, yaitu bagian atas (diatas larynk) dan bagian bawah (larynk ke bawah), sedangkan secara fisiologis dapat dibagi menjadi divisi konduksi dan dan divisi respirasi.

Mekanisme bernafas dibagi menjadi dua yaitu inspirasi dan ekspirasi. Inpirasi terjadi bila diafragma dan otot interkostal berkontraksi yang meningkatkan ukuran dada. Ketika tekanan intrapulmonary turun udara masuk ke paru-paru sampai tekaakn intrapulmonary dan tekanan atmosfer sama. Ekspirasi lebih bersifat pasif, terjadi begitu otot-otot inspitasi relaksasi dan paru-paru kembali ke semula. Bila tekanan intrapulmonary mlebihi tekanan amosfir, udara keluar dari paru-paru.

Ada empat jenis volume respirasi dan empat jenis kapasitas respirasi. Volume respirasi antara lain :volume tidal, yaitu volume udara pada inhalasi dan ekshalasi normal. Volume Inspirasi cadangan yaitu volume udara yang dapat diinhalasi lagi setelah inhalasi volume tidal normal. Volume ekspirasi cadangan yaitu volume udara yang diekshalasikan lagi setelah ekshalasi volume tidal normal. Sedangkan kapasitas paru-paru antara lain :kapasitas total paru-paru yaitu jumlah maksimal udara yang dikandung paru-paru setelah melakukan inspirasi maksimal. Kapasitas vital yaitu jumlah maksimal udara yang dapat diekspirasikan setelah inspirasi maksimal. Kapasitas inspirasi yaitu kandungan udara maksimal yang dapat di inspirasi setelah ekspirasi normal. Kapasitas residu fungsional yaitu volume udara yang tertinggal dalam paru-paru setelah ekspirasi volume tidal normal.

Pada saat respirasi ukuran rongga dada berubah, ketika inhalasi rongga dada membesar sedangkan saat ekshalasi mengecil. Hal ini terjadi karena mekanisme kontraksi dan relaksasi otot-otot interkostal dan diafragma. Dada membesar ketika diafragma dan otot interkostal berkontraksi, yang meningkatkan ukuran (dan volume) dada. Ketika tekanan intrapulmonar turun, udara masuk ke paru-paru sampai tekanan intrapulmonar dan tekanan atmosfir sama. Sebaliknya dada mengecil terjadi begitu otot-otot inspirasi berelaksasi dan paru-paru kembali ke semula. Bila tekanan intrapulmonar melebihi tekanan atmosfir, udara keluar dari paru-paru.

Kurang lebih 2/3 dari pertukaran udara timbul akibat elevasi tulang rusuk dan lebih kurang 1/3 akibat kontraksi diafragma. Perubahan posisi diafragma dan pergerakan tulang rusuk mengakibatkan perubahan volume rongga dada, yang sekaligus menyebabkan perbedaan tekanan antara udara luar dengan paru-paru yang memungkinkan terjadinya perpindahan udara ke dan dari luar ke tubuh. Pada percobaan diperoleh data bahwa ukuran dada tergantung pada berat badan dari praktikan, namun untuk ekspansi, jenis kelamin juga berpengaruh, laki-laki rata-rata mengalami ekspansi lebih besar daripada wanita. Hal ini dapat juga disebabkan oleh aktvitas dan kebutuhan oksigen seseorang yang berbeda-beda.

Pada percobaan ini volume tidal diperoleh dengan cara melakukan ekspirasi dan inhalasi normal. Spirometer ditiup saat praktikan melakukan ekshalasi normal tersebut. Besar volume tidal biasanya 500 cc untuk pria maupun wanita. Kesalahan yang terjadi pada nilai volum tidal pada pria dapat disebabkan karena praktikan menghirup napas dalam sehingga udara yang dikeluarkan banyak.

Volume ekspirasi cadangan diukur dengan cara praktikan menghirup napas normal, namun menghembuskan napas sekuat-kuatnya pada spirometer. Nilai volum ekpirasi cadangan sendiri adalah pengurangan angka yang tercatat pada spirometer dikurangi dengan volum tidal yang telah diukur sebelumnya. Volume ekspirasi cadangan berdasarkan literatur adalah sekitar 1200 cc untuk pria dan 700 cc untuk wanita. Kesalahan yang terjadi pada percobaan dapat terjadi karena praktikan berusaha untuk memaksakan proses ekspirasi secara berlebihan (dari yang mestinya dilakukan).

Kapasitas vital diukur dengan cara melakukan inspirasi sekuat-kuatnya dan ekspirasi sekuat-kuatnya. Saat melakukan ekspirasi sekuat-kuatnya, udara dihembuskan ke dalam spirometer. Angka yang ditunjuk oleh jarum pada spirometer merupakan kapasitas vital paru-paru (dalam cc). Menurut literatur, volume kapasitas vital paru-paru untuk pria adalah sekitar 4800 cc sedangkan untuk wanita 3100 cc.

Dari kapasitas vital ini dapat diketahui volume inspirasi cadangan dengan mengurangi kapasitas vital dengan volume tidal dan volume ekspirasi cadangan. Laki-laki memiliki volume inspirasi cadangan yang lebih tinggi dibandingkan wanita, yaitu sekitar 3100 cc, untuk pria, dan 1900 cc, untuk wanita. Data yang diperoleh jauh di bawah dari data dari literatur. Hal ini dikarenakan data yang diperoleh dari kapasitas total, volume tidal, dan volume ekspirasi cadangan sudah berbeda jauh dari data literatur. Hal inilah yang menyebabkan hasil untuk volume inspirasi cadangan juga berbeda dengan data dari literatur.

Pada umumnya perbandingan antara volume tidal, volume ekspirasi cadangan dan volume inspirasi cadangan adalah 1:2:6 untuk pria. Sedangkan untuk wanita, perbandingannya sebesar 2:3:8. Namun dari hasil percobaan menunjukan bahwa perbandingan tidak sesuai dengan literatur. Kesalahan ini bisa disebabkan oleh pernapasan yang kurang normal dari praktikan. Bisa juga disebabkan kondisi lingkungan, contohnya keadaan udara di dalam ruangan tempat praktikum berlangsung.

Sebagai aplikasi dalam pengukuran volume respirasi adalah untuk mendeteksi patologi pada volume paru-paru. Contohnya pada orang asma konstriksi jalannya udara cenderung menutup sebelum ekshalasi penuh. Hasilnya fungsi paru-paru menunjukkan pengurangan kapasitas vital, pengurangan ekspirasi cadangan, dan kecepatan pergerakan udara. Pada saat kontriksi saluran udara akan menghasilkan suara yang tidak normal pada serangan asma. Kondisi itu membatasi penggembungan maksimal paru-paru yang berefek sama terhadap kapasitas vital. Karena hal tersebut, inspirasi cadangan menjadi rendah. Meskipun demikian ekspirasi cadangan dan pergerakan kecepatan ekspirasi relatif normal.

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

A.  Kesimpulan

Dari penjelasan di atas maka dapat ditarik simpulan bahwa kecepatan pernapasan pada keadaan normal dan keadaan tidak normal berbeda antara satu sama lain. Perbedaan frekuensi pernapasan pada masing-masing individu dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur, jenis kelamin, suhu tubuh, posisi tubuh, serta kegiatan tubuh.

 

B. Saran

            Saran saya pada praktikum ini adalah agar untuk praktikum selanjutnya dapat lebih ditingkatkan lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Adi, Dwi Arinto. 2006. Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan. Jurusan Biologi FMIPA Unhalu. Kendari.

 

Bevelander, Gerrit & Judith A. Ramaley. 1988. Dasar-Dasar Histologi. Ed ke-8 Terjemahan Wisnu Gunarso. Erlangga. Jakarta.

 

Camroe, I.H. 1966. Anatomi Dan Fisiologi Paru-Paru. University Press. New York.

 

Kimball, John W. 1983. Biologi. Jilid 2. Ed ke-5. Terjemahan Siti Soetarmi Tjitrosomo & Nawangsari sugiri. Erlangga. Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

VOLUME RESPIRASI

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH :

NAMA                             : ARMADI CHAIRUNNAS

NO. STAMBUK                         : F1 D1 08 020

PROGRAM STUDI       : BIOLOGI

JURUSAN                       : BIOLOGI

KELOMPOK                  : III (TIGA)

 

 

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 9, 2012 in Kumpulan Laporan Biologi

 

FISIOLOGI HEWAN: Ritme Pernapasan

I. PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Secara sistematis sistem pernapasan dibagi menjadi saluran pernapasan atas dan saluran pernapasan bawah. Organ saluran pernapasan atas terletak di luar toraks, atau rongga dada, sementara saluran pernapasan bawah terletak hampir seluruhnya di dalam toraks .

Berdasarkan Anatomi dan Histologi Sistem Respirasi di bagi atas:

  1. Bagian Konduksi terdiri dari :
    – Hidung di lapisi oleh 2 mukosa yaitu Mukosa Respiratorius ( epitel bersilia ), dan Mukosa Olfaktoris ( ujung saraf bebas ).
    – Di kelilingi oleh Sinus Paranalis ( yang di lapisi oleh mucus respiratorius ). Contoh sinusnya yaitu Sinus Maxilaris, Sinus Prontalis, Sinus Ethmoldalis, Sinus Sphenoldalis
    – Perdarahaan Hidung di darahi oleh arteri:

    1. Arteri Sphenopalatina
    2. Arteri Maxilaris
    3. Cabang Arteri Facialis

– Persarafan Hidung Olfaktorius ( aferen viceral ), Maxillaris ( serabut sensoris ).

Manusia memiliki alat pernapasan utama berupa paru-paru dan dibantu alat-alat pernapasan lain berupa rongga hidung , farink, larink, dan trakea. Namun, pusat kontrol pernapasan terletak pada paru-paru yang berada dalam rongga dada, dibatasi oleh tulang rusuk dan otot dada, bagian bawah dibatasi oleh otot diafragma yang kuat. Paru-paru merupakan himpunan dari bronkiolus, saccus alveolaris, dan alveolus.

Bernapas adalah proses pengambilan udara pernafasan dari luar untuk dibawa masuk ke dalam paru-paru dan proses pengeluaran gas sisa ke udara bebas. Pada waktu bernapas, berlangsung kegiatan ekspirasi dan inspirasi sebanyak 15 samapi 18 kali. Oleh karena itu, berdasarkan otot yang berperan aktif  pada proses pernapasan, poernapasan pada manusia dapat dibedakan menjadi pernapasan perut dan pernapasan dada. Gerakan pernapasan diatur oleh pusat pernapasan diotak, sedangkan aktivitas saraf pernapasan dirangsang oleh stimulus (rangsangan) dari karbon dioksida (CO2).

Pernafasan seseorang adalah sangat spesifik, oleh sebab itu dalam hal irama/ritme pernafasanpun akan berbeda-beda. Selain itu perbedaan ini banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Sehingga dalam praktikum ini, kita akan mengetahui kecepatan pernapasan dan faktor yang mempengaruhi pernapasan pada manusia.

B.  Rumusan Masalah

            Rumusan masalah pada praktikum ini adalah bagaimana mengetahui kecepatan pernapasan per menit dan faktor-faktor mempengaruhinya?

C. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui  kecepatan pernapasan per menit dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

 

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

Secara fungsional, saluran pernafasan dapat dibagi dalam bagian penghantar (conducting portion), yang terdiri dari rongga-rongga dan pipa-pipa yang membawa udara dari luar tubuh ke semua bagian paru-paru, dan suatu bagian pernafasan (respiratory portion) yang terdiri dari bagian-bagian di dalam paru-pari di mana terjadi pertukaran gas natara udara dan darah. Secara anatomis, jalan lalu lintasnya terdiri dari bangunan-bangunan di luar paru-paru (hidung, nasofaring, larink, trakea, dan bronki utama) dan di dalam paru-paru (bronki kecil, bronkioli, bronkioli terminal). Tipa bronkiolus pernafasan bercabang menjadi suatu sistem saluran-saluran alveoler dan alveolus-alveolus di mana terjadi pertukaran gas (Bevelander, 1988: 299).

Pernafasan seseorang adalah sangat spesifik, oleh sebab itu dalam hal irama/ritme pernafasanpun akan berbeda-beda. Selain itu perbedaan ini banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal (Adi, 2006: 10).

Gerakan pernafasan merupakan suatu siklus dan dikontrol oleh pusat pernafasan dalam otak. Neuron inspirasi di dalam pusat ini mempunyai irama tetap dan aktif setiap bebrapa detik dan mengirimkan impuls saraf ke otot pernafasan setelah inaktif beberapa detik, kemudian diaktifkan kembali. Aktivitas neuron ini sudah cukup untuk pernafasan yang tenang, tetapi banyak faktor yang dapat mempengaruhi aktivitasnya. Yang terpenting adalah kadar karbondioksida dan kadar ion hidrogen dalam darah (Camroe, 1966: 175).

Daerah permukaan yang diberikan oleh alveolus cukup untuk memelihara kebutuhan gas dalam badan dalam keadaan istirahat maupun pada waktu bekerja. Walaupun demkian dalam keadaan tertentu, daerah pertukaran gas dari paru-paru yang benar-benar berkurang. Misalnya, infeksi oleh virus atau bakteri pada alveolus yang mengakibatkan radang paru-paru (pneumonia). Lalu terjadinya respirasi sel bervariasi dengan keadaan umum aktivitas badan. Bergeraknya badan dengan giat meningkatkan kebutuhan O2 untuk jaringan 20-25 kali. Kebutuhan O2 yang meningkat ini dipenuhi dengan meningkatkan laju dan dalamnya pernafasan (Kimball, 1983: 462).

Ventilasi paru-paru mamalia dilkukan dengan mengubah besarnya ruang toraks sehingga mengubah tekanan dalam paru-paru. Paru-paru memiliki gerakan dinding dada karena paru-paru itu terpisah dan sekaligus disatukan dengan dinding dada oleh daya adhesif dari lapisan cairan tipis yang terdapat di dalam rongga pleura. Selama pengambilan udara, inspirasi, yang normal dan tenang, toraks menjadi sedikit lebih besar, tekanan intrapulmoner turun sekitar 1 mm Hg di bawah tekanan atmosfir, dan udara mengalir ke dalam paru-paru sampai tekanan intrapulmoner sama dengan tekanan atmosfir (Villee, 1999: 174).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. METODE PRAKTIKUM

 

A.  Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 2  April 2011, pada pukul 13.00 WITA sampai  selesai. Kegiatan ini berlangsung di Laboratorium Fisiologi  FMIPA Unhalu Kendari.

 

B.  Alat dan Bahan

a.  Alat

No

Nama Alat

Kegunaan

1.

Kantong plastik

Sebagai Penutup Kepala

2.

Stopwatch

Untuk menghitung waktu

 

b.  Bahan

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tidak ada.

 

C.  Prosedur kerja

1.  Menghitung frekuensi pernafasan per menit pada waktu sedang istirahat.

2.  Bernafas dengan cepat selama 1 menit. Setelah itu bernafas dengan normal. Menghitung frekuensi pernafasan.

3.   Menutup hidung dan mulut dengan menggunakan kantong plastik, lalu bernafas dengan udara pernafasan yang ada dalam kantong, melakukannya selama 2 menit dan menghitung frekuensi pernafasan.

 4.  Berdiri tegak, kemudian menekuk lutut sebanyak 30 kali dengan interval waktu 1 menit. Kemudian duduk dengan tenang dan bernafas denan normal. Menghitung frekuensi pernafasan.

5.   Mengulangi perlakuan di atas dengan setiap kali selesai melakukan kegiatan. Kemudian menarik nafas dengan panjang dan menahannya selama mungkin hingga harus bernafas lagi. Mencatat waktunya (dalam satuan detik).

      6.   Mengulangi perlakukan terakhir dengan menahan udara ekspirasi. Lalu mencatat 

            Waktunya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A.  Hasil Pengamatan

Tabel hasil pengamatan

Tabel 1.

 

 

No.

 

Nama Sampel

Perlakuan

 

Istirahat

 

Setelah bernapas cepat

 

Ditutup kantong plastik

Setelah Menekuk Lutut

1.

Taufik W

30

25

66

31

2.

Asriwanti

29

37

57

26

3.

Muhsimin

19

27

24

18

4.

Hasrah

24

28

32

56

 

Tabel 2. Perlakuan Setelah Inhalasi Maksimal

 

 

No.

 

Nama Sampel

Perlakuan

 

Istirahat

 

Setelah bernapas cepat

 

Ditutup kantong plastik

Setelah Menekuk Lutut

1.

Taufik W

63

96

55

60

2.

Asriwanti

28

32

20

61

3.

Muhsimin

28

20

28

40

4.

Hasrah

62

35

26

41

 

 

 

Tabel 3. Perlakuan Setelah Ekshalasi Maksimal

 

 

No.

 

Nama Sampel

Perlakuan

 

Istirahat

 

Setelah bernapas cepat

 

Ditutup kantong plastik

Setelah Menekuk Lutut

1.

Taufik W

44

34

73

38

2.

Asriwanti

31

37

32

55

3.

Muhsimin

17

17

34

17

4.

Hasrah

42

43

75

42

 

B.  Pembahasan

 Pernapasan Perut merupakan pernapasan yang mekanismenya melibatkan aktifitas otot-otot diafragma yang membatasi rongga perut dan rongga dada. Mekanisme pernapasan perut dapat dibedakan menjadi dua tahap yakni  inspirasi, dimana pada fase ini otot diafragma berkontraksi sehingga diafragma mendatar, akibatnya rongga dada membesar dan tekanan menjadi kecil sehingga udara luar masuk. Kemudian ekspirasi merupakan fase berelaksasinya otot diafragma (kembali ke posisi semula, mengembang) sehingga rongga dada mengecil dan tekanan menjadi lebih besar, akibatnya udara keluar dari paru-paru. Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk. Mekanismenya dapat dibedakan sebagai tahap inspirasi dimana fase ini berupa berkontraksinya otot antartulang rusuk sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.

Tahap ekspirasi dimana pada fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antara tulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar. Mekanisme secara umum yaitu fase inspirasi dimana otot-otot interkostal berkontraksi akibatnya tulang rusuk terangkat. Kontraksi otot interkostal diikuti oleh kontraksi otot diafragma. Akibat kontraksi kedua otot ini, rongga dada menjadi membesar. Akibatnya udara masuk ke dalam paru-paru. Rongga dada yang bertambah besar menyebabkan tekanan udara di paru-paru menjadi kecil. Kemudian ekspirasi otot-otot interkostal berelaksasi akibatnya tulang rusuk turun. Relaksasi otot interkostal diikuti oleh berelaksasinya otot diafragma. Akibat relaksasi kedua otot ini, rongga dada menjadi menjadi mengecil. Akibatnya udara keluar dari dalam paru-paru ke lingkungan. Rongga dada yang mengecil menyebabkan tekanan udara di paru-paru menjadi besar. Pada manusia, efisiensi pertukaran hawa di dalam paru-paru meningkat disebabkan adanya diafragma. Diafragma adalah sekat berotot berbentuk kubah membagi rongga badan menjadi 2 bagian yaitu rongga perut (abdomen) dan rongga dada (toraks).

Berdasarkan otot yang berperan dalam proses pernapasan pada manusia, maka pernapasan dibagi menjadi 2 yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut. Yang berperan aktif pada pernapasan dada adalah otot antartulang rusuk luar  (interkostal eksternal) yang berperan dalam mengangkat tulang-tulang rusuk, dan otot antartulang rusuk dalam (interkosal internal) yang berperan menurunkan tulang rusuk ke posisi semula. Sedangkan pada pernapasan perut, otot yang berperan aktif adalah otot diafragma dan otot dinding rongga perut.

Dari hasil pengamatan di atas menunjukkan bahwa frekuensi pernapasan pada laki-laki lebih tinggi daripada wanita. Hal ini disebabkan karena laki-laki lebih banyak bergerak sehingga energi yang dibutuhkan juga lebih banyak dibandingkan dengan wanita. Oleh sebab itu, kebutuhan O2 dan produksi CO2 pada pria lebih tinggi. Selain faktor jenis kelamin, ada juga beberapa faktor yang dapat mempengaruhi cepat atau lambatnya pernapasan pada manusia yaitu umur, suhu tubuh, posisi tubuh, dan kegiatan tubuh.

Umur, semakin bertambah umur seseorang maka semakin rendah pula frekuensi pernapasannya. Suhu tubuh, semakin tinggi suhu tubuh maka semakin cepat pula frekuensi pernapasannya. Hal ini berhubungan dengan peningkatan proses metabolisme tubuh. Posisi tubuh merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap frekuensi pernapasan. Pada tubuh yang berdiri, otot-otot kaki akan berkontraksi sehingga diperlukan tenaga untuk menjaga tubuh tetap tegak berdiri . Untuk diperlukan banyak O2 dan diproduksi banyak CO2. Pada posisi tubuh berdiri, frekuensi pernapasannya meningkat. Orang yang banyak melakukan kegiatan memerlukan lebih banyak energi, dibandingkan dengan orang yang tidak melakukan kegiatan (santai/tidur). Oleh karena itu, tubuh memerlukan lebih banyak oksigen untuk oksidasi biologi dan lebih banyak memproduksi zat sisa. Untuk menjalankan ini tubuh perlu meningkatkan frekuensi pernapasannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

V. PENUTUP

 

A.  Kesimpulan

Dari penjelasan di atas maka dapat ditarik simpulan bahwa kecepatan pernapasan pada keadaan normal dan keadaan tidak normal berbeda antara satu sama lain. Pada keadaan normal, manusia mampu bernapas antara 15-18 kali setiap menitnya sedangkan pada keadaan tidak normal, manusia mampu bernapas antara 23-45 kali per menit. Perbedaan frekuensi pernapasan pada masing-masing individu dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur, jenis kelamin, suhu tubuh, posisi tubuh, serta kegiatan tubuh.

 

B.  Saran

Sebaiknya praktikum dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati bersama sehingga praktikum dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Adi, Dwi Arinto. 2006. Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan. Jurusan Biologi FMIPA Unhalu. Kendari.

 

Bevelander, Gerrit & Judith A. Ramaley. 1988. Dasar-Dasar Histologi. Ed ke-8 Terjemahan Wisnu Gunarso. Erlangga. Jakarta.

 

Camroe, I.H. 1966. Anatomi Dan Fisiologi Paru-Paru. University Press. New York.

 

Kimball, John W. 1983. Biologi. Jilid 2. Ed ke-5. Terjemahan Siti Soetarmi Tjitrosomo & Nawangsari sugiri. Erlangga. Jakarta.

 

Villee, Claude A., dkk. 1999. Zoologi Umum. Jilid I. Ed ke-6. Terjemahan Nawangsari sugiri. Erlangga. Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

RITME PERNAPASAN

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH :

NAMA                             : ARMADI CHAIRUNNAS

NO. STAMBUK                         : F1 D1 08 020

PROGRAM STUDI       : BIOLOGI

JURUSAN                       : BIOLOGI

KELOMPOK                  : III (TIGA)

 

 

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 9, 2012 in Kumpulan Laporan Biologi

 

FISIOLOGI HEWAN: Pemetaan Kelenjar Keringat

I. PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang

Kulit merupakan bagian besar yang menutupi permukaan tubuh. Lapisan dasarnya adalah epidermis meluas ke dalam korium untuk membentuk folikel-folikel rambut. Pada kulit pun merupakan organ yang sensitif terhadap sentuhan. Pada manusia, sentuhan halus dideteksi oleh reseptor yang terdapat dekat permukaan kulit. Acapkali terdapat folikel rambut, bahkan jika kulit disentuh tidak secara langsung, gerakan rambut dideteksi oleh reseptor.

Kelenjar kulit dibagi menjdi 2 bagian yaitu kelenjar keringat dan kelenjar sebaceosa. Kulit mengandung kelenjar-kelenjar keringat dan minyak. Di seluruh permukaan kulit terdapat kurang lebih dua setengah juta kelenjar keringat. Bagian yang kurang banyak mempunyai kelenjar keringat adalah telapak tangan, ujung jari, dan kulit muka. Kelenjar minyak lebih  banyak terdapat di kulit muka dan kepala. Minyak ini digunakan untuk menyerap atau meminyaki rambaut dan mencegah kekeringan kulit.

Kulit merupakan lapisan terluar tubuh kita. Setiap saat tidak henti-hentinya kulit menerima rangsangan mekanis dari luar tubuh. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila setiap hari ada jutaan sel kulit yang rusak dan yang harus diperbaharui.

 

 

B. Rumusan Masalah

      Rumusan masalah pada laporan kali ini adalah bagaimana menunjukkan keberadaan, aktivitas, dan distribusi kelenjar keringat pada kulit ?

C.  Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk menunjukkan keberadaan, aktivitas, dan distribusi kelenjar keringat pada kulit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

Pada suhu lingkunga tinggi (panas), kelenjar keringat menjadi aktif dan pembuluh kapiler di kulit melebar. Melebarnya pembuluh kapiler akan memudahkan proses pembuangan air dan sisa metabolisme. Aktifnya kelenjar keringat mengakibatkan keluarnya keringat ke permukaan kulit dengan cara penguapan. Penguapan mengakibatkan suhu di permukaan kulit turun sehingga kita tidak merasakan panas lagi. Sebaliknya, saat suhu lingkungan rendah, kelenjar keringat tidak aktid dan pembuluh kapiler di kulit menyempit. Pada keadaan ini darah tidak membuang sisa metabolisme dan air, akibatnya penguapan sangat berkurang, sehingga suhu tubuh tetap dan tubuh tidak mengalami kendinginan. Keluarnya keringat dikontrol oleh hipotamulus. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kulit)

Kulit (integumen) terdiri atas lapisan luar yang disebut dermis. Lapisan luar belapis-lapis yaitu berupa stratum korneum yang mati dan selalu mengelupas lapisan stratum lusidum, lapisan stratum germinativum yang terus-menerus membentuk sel-sel baru ke arah luar. Di bawah lapisan ini berupa dermis yang mengandung akar rambut, kelenjar, pembuluh darah, dan saraf. Di bawah dermis terdapat lapisan lemak yang bertugas menghalang-halangi pengaruh suhu di luar tubuh (Pratingjo, 1985: 270).

Dekat akar rambut terdapat kelenjar minyak (glandula sebasea), yang menghasilkan minyak untuk mencegah kekeringan dan mengerutnya kulit rambut. Kelenjar keringat (glandula sudirifera) tersebar di kulit tubuh kita, bentuk sederhana seperti pembuluh panjang dari lapisan malpigi masuk ke bagian dermis. Pangkal kelenjar ini menggulung dan berhubungan dengan kapiler darah dan serabut saraf simpatik. Dari kapiler darah tersebut, kelenjar keringat akan menyerap air dengan larutan garam (terutama garam dapur) dan sedikit urea. Air beserta larutannya akan dikeluarkan melalui pembuluh ke permukaan kulit (Prawoto, 1994: 20).

Kelenjar keringat tersebar luas pada sebagian besar permukaan tubuh. Mereka merupakan kelenjar berbentuk tubula sederhana dengan bagian-bagian sekresi yang meluntir. Bagian-bagian ini dapat terletak dalam jaringan subkutaneus atau di bagian yang lebih dalam dari korium dan berada dalam satu baris dengan epitel kubis atau torak. Sitoplasmanya mengandung butiran-butiran atau tetesan-tetesan sekresi (Bevelander, 1988: 215).

Alat-alat ekskresi adalah struktur yang khas berbentuk tabung atau kantong yang disesuaikan untuk menjenuhkan limbah. Sebagian besar termasuk dalam satu atau dua tipe umum. Pada satu tipe, ujung dalam berakhir di dalam selom. Sedikit molekul yang disaring dari darah ke dalam cairan selom selanjutnya masuk ke dalam tubulus ekskresi. Disamping reabsorpsi selektif dapat juga terjadi sekresi limbah oleh dinding tubulus mengelilingi tubulus tersebut (Villee, 1999: 215).

 

 

 

 

III. METODE PRAKTIKUM

 

A.  Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 02 April 2011, pukul 13.00 WITA hingga selesai. Bertempat di Laboratorium Fisiologi FMIPA Unhalu, Kendari.

B.  Alat dan Bahan      

            Alat-alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Alat-alat  dan kegunaannya

No.

Nama Alat

Fungsi

1.

Selotip Sebagai perekat  kertas tissue yang berisi iodin.

2.

Pipet tetes Untuk mengambil larutan yang akan digunakan.

 

 

Tabel 2. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:

No.

Nama Bahan

Fungsi

1.

Iodin Sebagai indikator adanya kelenjar keringat pada bagian tubuh yang direkatkan tissue yang mengandung iodin.

2.

Kertas tissue Untuk menandai adanya kelenjar keringat pada bagian tubuh tertentu.

C.  Prosedur Kerja

1. Membersihkan  areal 5 cm2 pada kening, leher dan lengan dengan menggunakan alkohol, lalu membiarkan mengering, selanjutnya mengolesi bagian tersebut dengan iodin. Kemudian memilih daerah yang tidak berambut.

2.   Mengambil potongan tissue yang telah disiapkan, menempelkan ke bagian yang diwarnai selama lebih kurang 2 menit, juga agar tidak bergeser  dengan merekatkannya menggunakan selotip.

3.   Mengangkat kertas tissue dan menghitung bintik biru yang terbentuk, sebuah titik menunjukkan 1 muara kelenjar keringat yang aktif, besar kecilnya bintik tergantung pada jumlah presipitasi yang diekskresikan oleh kelenjar keringat. Jumlahnya per satuan luas menunjukkan jumlah kelenjar keringat yang aktif dalam luasan tersebut.

4.   Mengulangi pengamatan dengan perlakuan yang berbeda, misalnya lari di tempat dan lari mengelilingi ruangan.

 

 

 

 

 

 

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A. Hasil Pengamatan

 

 

 

Nama

 

 

JK

 

Jumlah Bintik Keringat

 

Lari Keliling

 

Diam di Tempat

Lari di Tempat

 

Dahi

Leher

Lengan

Dahi Leher Lengan Dahi Leher Lengan  
Darson

L

3

4

7

4

9

 
Marda

P

13

10

16

3

19

20

4

11

 
   

B. Pembahasan

Ada sekitar tiga juta kelenjar keringat di tubuh manusia dengan konsentrasi tertinggi kelenjar keringat ini adalah di telapak tangan. Rata-rata, setiap orang mengeluarkan sekitar 0,7 hingga 1,5 liter per jam. Seseorang yang aktif berkeringat sekitar 1,5 hingga 1,8 per jam. Sementara itu, atlet triatlon dapat memproduksi hingga empat liter keringat dalam satu jam. Artinya, produksi keringat kita tergantung pada ukuran, kebugaran fisik, dan tingkat hidrasi seseorang. 

Menurut ahli fisiologi dari University of Guelph di Kanada, Lawrence Spriet, setelah kehilangan tiga hingga lima persen berat tubuh, barulah proses berkeringat mulai melambat. Sementara itu, ahli fisiologi lingkungan dan olahraga, Lawrence Armstrong, menyatakan tubuh manusia terus berkeringat meskipun terjadi dehidrasi. “Selama hipotalamus mengirim pesan saraf ke kelenjar keringat, manusia akan tetap berkeringat. Malahan, jika keringat berhenti maka sesuatu yang salah,” kata Armstrong. 

Jika suhu tubuh kita di atas 40 derajat Celcius, tubuh kita mulai kepanasan. Saat ini terjadi, membran jaringan kehilangan integritas dan terjadi kebocoran, kata Armstrong. Dalam kondisi seperti ini, usus dapat melepaskan bakteri ke dalam aliran darah. Akibatnya tubuh terkena syok dan kemungkinan akan pingsan atau koma.

Di beberapa  daerah tubuh, seperti aksila, areola mamal, dan daerah sirkumanal, kelenjar keringat lebih besar dari pada yang bertempat dalam telapak tangan dan lain-lain daerah. Kelenjar-kelenjar ini dari jenis apokrin, yang memproduksi sekresi yang lebih pekat daripada keringat yang terbuat oleh kelenjar yang lebih kecil (merokrin). Juga termasuk kelenjar seruminous pensekresi lilin, terletak dalam saluran telinga luar dan tepi kelopak mata. Sekresi kelenjar-kelenjar itu dibawa tepi bawah epidermis, di mana ia masuk ke dalam saluran berpilin melalui jaringan-jaringan untuk muncul keluar di permukaan melalui pori-pori yang kecil sekali.

            Dari hasil pengamatan pada praktikum ini dapat kita lihat hasil bahwa pemetaan kelenjar keringat pada pria lebih sedikit dibandingkan dengan wanita. Padahal seharusnya yang memiliki pemetaan kelenjar keringat yang lebih banyak ialah pria sebab pria lebih aktif bergerak dibandingkan dengan wanita. Kemungkinan yang menyebabkan kesalahan pada praktikum ini ialah penempelan kapas yang sebelumnya telah dibasahi larutan iodin tidak pada tempat dan kondisi yang tepat. Jadi ada sebagian kelenjar keringat yang belum mensekresikan air keringatnya pada waktu penempelan sehingga tidak terdeteksi oleh larutan iodin. Selain itu hal ini juga dapat disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti genetis dimana orang tersebut sulit sekali mensekresikan keringatnya walaupun sudah berolahraga keras, atau bisa pula disebabkan oleh kurangnya konsumsi air dan mineral dari orang tersebut sehingga kurangnya cairan dalam tubuh orang tersebut (dehidrasi). Akibatnya hanya sedikit pula keringat yang disekresikannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V. PENUTUP

 

A.  Kesimpulan

Dari penjelasan di atas maka dapat ditarik simpulan bahwa kelenjar keringat banyak terdapat di seluruh tubuh manusia dan merupakan salah satu kelenjar sekresi terbesar yang terdapat pada kulit. Dari hasil pengamatan, kelenjar keringat lebih banyak ditemukan pada wanita dikarenakan adanya kesalahan dalam melaksanakan praktikum.

 

B. Saran

      Saran saya pada praktikum ini adalah agar praktium selanjutnya lebih seru, gokil dan menyenangkan lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bevelander, Gerrit & Judith A. Ramaley. 1988. Dasar-Dasar Histologi. Ed ke-8 Terjemahan Wisnu Gunarso. Erlangga. Jakarta.

 

Villee, Claude A., dkk. 1999. Zoologi Umum. Jilid I. Ed ke-6. Terjemahan Nawangsari sugiri. Erlangga. Jakarta.

 

Pratignjo. 1985. Bioloi 2. Depdikbud. Jakarta.

 

Prawoto, 1994. Biologi. Depdikbud. Jakarta.

 

 http://id.wikipedia.org/wiki/Kulit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

PEMETAAN KELENJAR KERINGAT

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH :

NAMA                             : ARMADI CHAIRUNNAS

NO. STAMBUK                         : F1 D1 08 020

PROGRAM STUDI       : BIOLOGI

JURUSAN                       : BIOLOGI

KELOMPOK                  : III (TIGA)

 

 

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 9, 2012 in Kumpulan Laporan Biologi

 

FISIOLOGI HEWAN: Lokalisasi Sumber Suara

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

LOKALISASI SUMBER SUARA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH :

NAMA                                         : ARMADI CHAIRUNNAS

NIM                                              : F1 D1 08 020

PROGRAM STUDI                   : BIOLOGI

JURUSAN                                   : BIOLOGI

KELOMPOK                              : III (TIGA)

ASISTEN PEMBIMBING        : AGUS RINAL

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2011

 

 

 

I. PENDAHULUAN

 

  1. A.  Latar Belakang

Secara anatomi, telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar, tengah dan dalam. Telinga berfungsi mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai kegendang telinga. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai kanalis semisirkularis yang berisi cairan. Ditelinga tengah ini, gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan  di kanalis semisirkularis, adanya ligamen antar tulang mengamplikasikan getaran yang dihasilkan dari gendang telinga. Telinga dalam merupakan tempat ujung ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan ransangan suara.

Telinga mampu melokalisasikan sumber suara/bunyi. Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterimanya masing-masing telinga serta perbedaan saat diterimanya gelombang suara di kedua telinga. Kemampuan telinga untuk membedakan suara yang berjalan horisontal lebih baik daripada kemampuannya untuk membedakan suara yang vertikal.

 

 

 

 

B.  Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada praktikum ini adalah Bagaimana melokalisasikan suara ?

 

C. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk menunjukkan kemampuan melokalisasikan sumber suara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

Telinga dapat dibedakan menjadi tiga bagian berdasarkan anatominya yaitu: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.

  1. Telinga luar, telinga luar mengumpulkan gelombang bunyi ke meatus auditorius eksternus. Pada beberapa hewan telinga dapat bergerak seperti antena radar yang mencari sumber bunyi. Dari meatus, kanalis auditorius eksternus berjalan ke dalam menuju membran tympani ( Ganong,2002).

Membran tympani , yang disebut juga gendang telinga, memisahkan telinga luar dan telinga tengah.  Sebagian dari tulang temporalis, procesus mastoideus, terletak di belakan gdan dibawah di bawah saluran luar ( Corwin, 2000).

Dasar dari telinga luar  terdiri dari tiga kartilago, yakni kartigago konkal, skutiformis, dan kartilago anuler. Kartilago konkal merupakan kartilago terbesar, bentuknya menyerupai kerang laut, dan merupakan corong gelombang suara memasuki saluran telinga.. kartilago skutiformis terletak pada permukaan superficial dari otot temporalis dan melekat pada telinga extrinsik. Beberapa otot melekat pada kartilago konkal dan beberapa melekat tidak langsung pada kartilago skutiformis. Otot-otot extrinsik telinga diinervasi oleh saraf fasial (kranial keVIII). Telinga bagian externa menerima sensasi dari saraf trigeminus, fasial,dan saraf vagus. (Frandson, 1992)

Mikro-Lumen saluran auditori luar memiliki kontur yang tidak teratur, disebabkan oleh lipatan kulit permanen dengan sel-sel lemak di tengahnya. Campuran sebum dengan sekreta kelenjar serumen dan sel yang terkelupas dari epitel pipih banyak lapis membentuk kotoran telinga.(Delman, 1992).

  1. Telinga tengah.

Telinga tengah adalah rongga beisi udara di dalam tulang temporalis yang terbuka melalui tuba Eustachii ke nasofaring dan melalui nasofaring keluar. Tuba biasanya tertutup. Tetapi selama mengunyah, menelan, dan menguap saluran ini terbuka, sehingga tekanan udara di kedua sisi gendang telinga seimbang.( Ganong, 2002)

Mikro-. Ruang timpani yang berisi udara, memiliki tiga tulang pendengaran dengan otot serta ligamen, dibalut oleh epitel pipih selapis atau epitel kubus sebaris menopang lapis jaringan ikat tipis. Beberapa sel epitel memiliki silia, terutama yang tersebar di lantai rongga tersebut.(Delman, 1992)

  1. Telinga dalam

Telinga dalam adaalah suatu organ kompleks yang terdiri dari dua struktur, yakni labirin bertulang di sebelah luar dan labirin membranosa di bagian dalam. Labirin bertulang dipisahkan dari labirin membranosa oleh cairan kental disebut perilimfe. Labirin membranosa terisi oleh cairan endolimfe. Di labirin bertulang terdapat koklea, vestibulus dan kanalis semisirkularis.(Corwin, 2000)

Labirin membranosa juga mencakup tiga buah saluran semi sirkuler, sebuah di dalam setiap saluran oseosa semi sirkuler. Dua kantung membran yaitu utrikel dan sakule adalah bagian labirin membranosa dan terletak dalam vestibula. Kedua ujung dari setiap saluran semisirkuler terbuka ke arah dalam utrikel. Utrikel ini jg berhubungan dengan sakule melalui duktus endolimfatik. Selanjutnya sakule berhubungan dengan koklea membranosa.( Frandson, 1992).

Koklea. Bagian koklea labirin adalah saluran melingkar yang pada manusia panjangnya 35mm. Membran basilaris dan membran Reisner membentang sepanjang saluran ini dan membagi menjadi 3 skala. Skala vestibuli di bagian atas dan skala timpani di bagian bawah mengandung perilimfe dan berhubungan satu sama lain di apeks koklea melalui sebuah lubang kecil yang disebut helikotrema. Skala timpani berakhir di fenestra rotundum, sebuah foramen di dinding medial telinga tengah yang tertutup oleh membran timpani sekunder. Skala media, ruang koklea tengah bersambungan dengan labirin membranosa dan tidak berhubungan denga skala lainnya dan mengandung endolimfe.(Ganong, 2002).

Vestibulum. Vestibulum merupakan rongga kecil berbentik lonjong berbatasan dengan dinding medial ruang timpani. Ke arah rostral  berkomunikasi dengan koklea dan ke arah kaudal dengan saluran semisirkular. Dinding medial memiliki utrikulus selaput dan sakulus. Kedua struktur tersebut dihubungkan oleh saluran utrikulosakulus. di daerah tertentu dalam labirin berselaput, sel-sel epitel pipih berubah menjadi silinder tinggi. Ini merupakan daerah neuroepitel utrikulus, sakulus, dan ampula dari saluran semisirkuler (Delman, 1992)

Getaran suara akan menggetarkan udara dan akan dikumpulkan dalam pinna. Getaran akan diteruskan ke dalam telinga dan akan menggetarkan membran timpani selanjutnya ke tulang pendengaran dan menuju tingkap oval. Getaran kemudian disalurkan ke dalam saluran vestibular koklea yang kemudian akan menggetarkan perilimfe di dalamnya. Getaran akan menggetarkan membran basal organ Corti yang memiliki sel rambut. Gerakan sel rambut menyapu membran tektorial akan mengakibatkan perubahan posisi rambut dan menyebabkan pembukaan kanal K+ sehingga memacu depolarisasi yang kemudian di teruskan ke saraf akustik menuju otak. Getaran akan diteruskan menuju tingkap bundar melalui saluran timpanik (Cambell, 2003).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. METODE PRAKTIKUM

 

A.  Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari sabtu 16 April 2011, pukul 13.00 WITA hingga selesai. Kegiatan ini berlangsung di Laboratorium Fisiologi FMIPA Unhalu Kendari.

B.  Alat dan Bahan

1.  Alat

Alat

Fungsi

Jam weker Untuk melihat reaksi probandus terhadap suara
Alat tulis menulis Untuk mencatat hasil pengamatan

 

2. Bahan

Bahan

Fungsi

Probandus Sebagai objek yang diteliti.

 

C.  Prosedur Kerja

1)      Menutup mata probandus

2)       Membunyikan sumber bunyi yang ada pada jarak 20 cm dari probandus

Memvariasikan posisinya di depan kepala, di atas kepala, belakang kepala, atau samping kepala

4. Probandus menebak posisi sumber bunyi setiap kali posisi di ubah

 

 

 

B. Pembahasan

 

Mendengar adalah kemampuan suatu organisme untuk menangkap atau mendeteksi adanya udara yang bergetar sehingga menyebabkan terjadinya bunyi dengan panjang gelombang(frekuensi) dan amplitudo tertentu.  Dalam keadaan biasa, vibrasi mencapai indera pendengar, yaitu telinga melaui udara. Berdasarkan hasil praktikum, dimana probandus menebak posisi sumber bunyi (koin) dengan mata tertutup pada jarak 20 cm, ternyata akurasi pendengaran dalam menebak posisi sumber bunyi hanya 90%.  Dimana posisi koin yang berada di belakang kepala tidak tertebak dengan benar. 

Adanya keakurasian yang tidak sempurna (100%) dalam melokalisasikan atau menebak posisi sumber bunyi dapat disebabkan oleh beberapa hal.  Misalnya karena mata probandus yang ditutup, sehingga indera yang berfungsi sebagai penglihatan tidak dapat digunakan untuk membantu dalam menebak sumber bunyi.  Selain itu kesalahan dalam menebak posisi sumber bunyi dapat juga terjadi karena adanya gangguan-gangguan telinga antara lain tuli konduksi ataupun tuli saraf sehingga mengganggu dalam menebak sumber bunyi.

Faktor- faktor lainnya dapat terjadi karena faktor usia dimana semakin tua maka semakin rendah kemampuan panca indera seseorang. Kemudian penyebab lainnya yaitu adanya sumbatan pada liang telinga yang menyebabkan terjadinya hal ini. Selain untuk mendeteksi bunyi/gelombang suara, telinga juga mempunyai fungsi lain yaitu sebagai alat deteksi posisi tubuh yang berhubungan dengan gravitasi dan gerak tubuh atau dikenal sebagai alat keseimbangan (equilibrium) tubuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V. PENUTUP

 

  1. A.  Simpulan

            Adapun kesimpulan dalam praktikum ini adalah mendengar adalah kemampuan suatu organisme untuk menangkap atau mendeteksi adanya udara yang bergetar sehingga menyebabkan terjadinya bunyi dengan panjang gelombang(frekuensi) dan amplitudo tertentu. Bunyi suara ini dapat didengar telinga melalui udara.

 

  1. B.   Saran

Saran yang dapat saya ajukan adalah agar dalam praktikum selanjutnya lebih ditingkatkan lagi.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Brown dan Dellman.1992.Buku Teks Histologi Veteriner II. UI-Press. Jakarta

Campbell dkk.2003.Biology jilid 3. Erlangga. Jakarta

Corwin, Elizabeth. 2000. Patofisiologi. EGC. Yogyaakarta

Ganong, William. 2002. Fisiologi Kedokteran. EGC.  Jakarta

Frandson. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. UGM Press.  Yogyakarta

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 9, 2012 in Kumpulan Laporan Biologi

 

FISIOLOGI HEWAN: Laju Metabolisme Basal

PRAKTIKUM II

LAJU METABOLISME BASAL

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH :

NAMA                             : ARMADI CHAIRUNNAS

NO. STAMBUK                         : F1 D1 08 020

PROGRAM STUDI       : BIOLOGI

JURUSAN                       : BIOLOGI

KELOMPOK                  : III (TIGA)

 

 

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2011

I. PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point).

Manusia dalam melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tentu menghasilkan sampah atau limbah. Sampah atau limbah ini merupakan sisa yang harus dibuang agar tidak mengganggu. Misalnya sampah yang dihasilkan dari memasak, limbah pabrik, ataupun limbah rumah sakit. Demikian pula yang terjadi pada mahluk hidup. Semua mahluk hidup juga mengeluarkan limbah. Mulai hewan bersel satu, seperti amoeba sampai hewan tingkat tinggi, bahkan manusia. Dalam proses pengeluaran limbah pada mahluk hidup memerlukan sebuah sistem yang disebut sistem ekskresi. Ekskresi adalah suatu proses pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolisme sel yang sudah rusak tidak digunakan oleh tubuh dan dikeluarkan bersama urine, keringat, atau udara pernapasan. Zat ekskresi utama terdiri dari karbon dioksida, air, dan senyawa nitrogen. Sementara itu, zat ekskresi yang berupa senyawa nitrogen ada tiga macam, yaitu amonia, sam urat, dan urea. Amonia merupakn zat yang sangat beracun dan larut dalam air. Urea adalah zat yang mudah larut dan tidak begitu beracun. Zat sisa yang mengandung senyawa nitrogen harus segera dikeluarkan dari dalam tubuh karena bersifat beracun.

B.  Rumusan Masalah

Bagaimana mementukan laju metabolisme basal secara teoritis

C.  Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan laju metabolisme basal secara teoritis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

Hubungan antara tinggi badan, Berat badan dan luas permukaan tubuh disusun dalam tabel yang dikenal dengan charta permukaan tubuh Dubois (Dubois body suface chart). Dalam tubuh, tingkat laju kehilanagn panas tubuh seimbang dengan jumlah panas yang diproduksi dalam rangka mempertahankan temperatur tubuh normal. Umur dan jenis kelamin berpengaruh terhadap laju kehilangna panas tubuh. Belum ditemukan penjelasan yang detail tentang perbedaan laju dalam kedua jenis kelamin (Adi, 2006: 7).

Sumber utama panas hewan. Hewan endoterm adalahg mebolisme yang terjadi dalam organ-organ interna mereka. Pada organ yang sedang istirahat lebih dari 2/3, panas dibentuk oleh alat-alat dari rongga dada dan rongga perut dan oleh otak (yang mengembang 16% dari panas total kira-kira sama dengan otot-otot kerangka kita bila dalam keadaan  istirahat). Ini berhubungan dengan hewan berdarah panas dan berdarah dingin (Kimball, 1983: 533).

Permukaan tubuh merupakan bagian tubuh utama yang berhubungan dengan kehilangan panas. Bagian ini bervariasi dan berhubungn dengan tinggi badan dan berat badan secara individual. Hubungan antara tinggi badan, Berat badan dan luas permukaan tubuh disusun dalam tabel yang dikenal dengan charta permukaan tubuh Dubois (Dubois body suface chart). Dalam tubuh, tingkat laju kehilanagn panas tubuh seimbang dengan jumlah panas yang diproduksi dalam rangka mempertahankan temperatur tubuh normal. Umur dan jenis kelamin berpengaruh terhadap laju kehilangna panas tubuh. Belum ditemukan penjelasan yang detail tentang perbedaan laju dalam kedua jenis kelamin (Adi, 2006: 7).

Kulit berfungsi sebagai pelindung terhadap kerusakan-kerusakan fisik karena gesekan, penyinaran, kuman-kuman, panas, zat kimia dan lain-lain. Selain itu kulit juga berfungsi mengurangi kehilangan air, mengatur suhu badan, rangsangan dari luar dan ekskresi. Di bawah lapisan ini berupa dermis yang mengandung akar rambut, kelenjar, pembuluh darah dan saraf. Di bawah dermis terdapat lapisan lemak yang bertugas menghalang –halangi pengaruh perubahan suhu di luar tubuh (Pratignjo, 1984: 270).

Pada umumnya hewan lebih aktif, walaupun dalam keadaan istirahat, mempunyai yang lebih tinggi. Panas yang dihasilkan dalam metabolisme sel, akhirnya dikeluarkan melaui permukaan tubuh, tetapi laju hilangnya panas ini tergantung pada jenis hewan. Kebanyakan hewan adalah ektotermik; laju hilangnya panas hewan itu begitu tinggi dan laju produksi panas begitu rendah, sehingga suhu tubuh ditentukan oleh suhu lingkungan dan bukan oleh metabolisme interna. Suhu tubuh hewan sepertiitu berfluktuasin dengan suhu lingkungan; hewan tersebut dikatakan poikilotermik. Ektotermik dan poikilotermik sebenarnya merupakan cara yang berbeda untuk mengutarakan keadaan yang sama dan kedua istilah itu dapat dipergunakan secara sinonim (Ville, 1999: 158).

Lavoisier menggunakan suatu kalori-meter es untuk mengukur produksi panas tubuh yang dihasilkan oleh seekor marmot. Alat ini terdiri dari suatu ruang untuk marmot, yang diselimuti oleh ruangan lain yang terisi dengan es. Jumlah panas yang dihasilkan ditentukan dengan cara tak langsung dengan mengukur banyaknya es yang mencair selama periode tertentu. Metabolisme 1 gr lemak menghasilkan 9,3 kalori panas kira-kira sama banyak dengan yang dihasilkan oleh pembakaran 1 gr lemak di luar tubuh. 1 gr karbohidrat menghasilkan kira-kira 4,1 kalori bila dibakar di luar ataupun di dalam tubuh. Sedangkan protein apabila dibakar di luar tubuh menghasilkan 5,3 kalori, sedangkan pembakaran di dalam tubuh menghasilkan 4,1 kalori. Perbedaan produksi panas protein ini disebabkan oleh terjadinya ekskresi sisa-sisa nitrogen dan metabolisme protein. Perbedaan ini praktis hilang apabila sejumlah ekivalen panas dan urine dan feses ditambahkan pada angka metabolik dari protein itu (Frandson, 1992: 645).

Kecepatan metabolisme basal adalah sistem atau istilah untuk menunjukkan jumlah keseluruhan aktivitas metabolisme dengan dalam keadaan istirahat fisik dan mental. Dalam keadaan ini diperlukan oksigen paling sedikit karena jaringan sedang dalam bekerja paling lambat sehingga akan menghasilkan jumlah yang sedikit (pearce, 1999: 226).

 

 

 

 

 

 

 

III. METODE PRAKTIKUM

 

A.  Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 19 Maret 2011, pada pukul 13.30 WITA hingga selesai. Bertempat di Laboratorium Fisiologi FMIPA Unhalu, Kendari.

B.  Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

1. Alat

Tabel 1. Alat dan kegunaan pada praktikum laju metabolisme basal.

NO Nama Alat Kegunaan
1. Alat tulis Untuk menulis hasil pengamatan

 

2. Bahan

 

Tabel 2. Bahan dan kegunaan pada praktikum laju metabolisme basal.

 

NO Nama Bahan Kegunaan
1.

 

2.

Meteran

 

Timbangan berat badan

Untuk mengukur tinggi badan

 

Untuk menimbang berat badan

 

 

 

 

 

 

 

C.  Prosedur Kerja

1.   Mencatat tinggi badan, berat badan dan jenis kelamin maing-masing individu.

2.   Menentukan luas permukaan tubuh dengan menggunakan Dubois Body Surface Chart.

3.   Menentukan laju metabolisme basal dalam menit, jam dan hari dengan menggunakan tabel, menghitung kehilangan panas berdasarkan umur dan jenis kelamin dalam kalori per menit, lalu mengalikan dengan luas permukaan tubuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A. Hasil Pengamatan

No

Nama

Jenis kelamin

Berat badan (Kg)

Tinggi badan (cm)

1.

Boi Herman Laki-laki

51

163

2.

Irjum B Laki-laki

45

165

3.

Nur Arsi Perempuan

69

          150

4.

Asniati Sirza Perempuan

43

144

 

 

B. Pembahasan

Laju metabolisme basal (bahasa Inggris: basal metabolic rate, BMR) dikembangkan sebagai perbandingan antara kecepatan metabolisme dengan, awalnya, sebuah konteks klinis untuk menentukan status tiroid, seperti diketahui, beberapa analog hormon tiroid, seperti tiroksin, tri-iodotironina dan asam di-iodotiropropionat menginduksi angiogenesis di dalam sel dan mengirimkan sinyal yang disekresi sebagai faktor pertumbuhan fibroblas basal. Meski terdapat perbandingan lain yang tidak kalah pentingnya yaitu perbandingan alometrik antara berat tubuh dan kecepatan metabolisme makhluk hidup.

Teori pemacu membran (bahasa Inggris: pacemaker membrane theory) mengatakan bahwa komposisi asam lemak pada membran ganda fosfolipid adalah salah satu penentu BMR yang sangat penting. Teori ini tercetus setelah ditemukan tingginya rasio asam dokosaheksaenoat pada gugus asil membran ganda fosfolipid yang memicu tingginya aktivitas metabolik pada membran sel.

Sekresi dan produksi hormon tiroid pada mamalia berhubungan dengan berat tubuh, walaupun angka-angka yang menunjukkan relasi kedua belum ditetapkan. Seiring dengan peningkatan berat badan dan penurunan rasio BMR:berat, poliunsaturasi membran akan menurun sedangkan monounsaturasi membran akan meningkat. Sel dengan komposisi membran mengandung asam lemak poli-takjenuh (PUFA) ditengarai berumur lebih pendek,[4] dan lebih responsif terhadap stimulasi sekitar, dibandingkan dengan kandungan asam lemak jenuh (SFA) dan asam lemak mono-takjenuh (MUFA).

Pada tahun 1961, Max Kleiber menemukan bahwa hubungan antara siklus energi BMR dengan aktivitas pada membran, terutama pada potensial elektrokimiawi, seperti gradien Na+ pada membran plasma, dan gradien H+ pada membran mitokondria sisi dalam. Beliau lebih lanjut menjabarkan bahwa variasi berat tubuh tidak hanya bergantung pada komposisi membran, tetapi bergantung pada variasi antara komposisi dan aktivitas membran, yang juga memberikan pengaruh terhadap proses penuaan dan rentang hidup suatu makhluk.

Saat ini telah diketahui bahwa hormon tiroid, khususnya tri-iodotironina, akan mempercepat laju reaksi oksidasi suksinat, glutamat, β-hidroksibutirat, dan meningkatkan penyerapan ADP dan O2 ke dalam mitokondria, sehingga secara tidak langsung akan mempercepat lintasan siklus asam sitrat dan fosforilasi oksidatif. BMR lantas ditentukan sebagai kopling antara reaksi fosforilasi dan respirasi.

Laju metabolisme basal merupakan istilah yang digunakan untuk menentukan jumlah keseluruhan aktivitas metabolisme dimana tubuh dalam keadaan istirahat baik secara fisik maupun mental.

Dalam praktikum kali ini dapat dilihat bahwa laju metabolisme basal sangat dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, berat badan dan tinggi badan. Dimana dalam tubuh tingkat laju kehilanagan panas  seimbang dengan jumlah panas yang diproduksi dalam rangga mempertahankan temperatur tubuh normal.

Pada pengamatan ini, dapat dilihat bahwa laju metabolisme pada wanita sangat berbeda dengan laju metabolisme pada laki-laki. Hal ini disebabkan bahwa kehilangan panas tubuh berhubungan dengan tinggi badan dan berat badan seseorang. Dalam keadaan normal, semakin tinggi seseorang maka semakin besar pula berat badannya sehingga luas permukaan tubuhnya pun akan semakin besar pula dan sebaliknya. Oleh karena itu dibutuhkan energi yang besar untuk mengimbanginya. Hal ini dikarenakan energi yang dipakai dalam kegiatan akan menghasilkan panas tubuh yang dapat atau dipakai untuk mengimbangi panas tubuh yang hilang.

Fenomena di atas berlaku pula pada hewan, dimana laju metabolik hewan kecil lebih besar daripada hewan besar. Hal ini disebabkan harus diproduksinya lebih banyak panas yang lebih besar karena relatif lebih luasnya permukaan tubuh terhadap volume tubuh pada hewan kecil. Jika menggunakan skala logaritmik, maka suatu hubungan ekivalen akan mempunyai kemiringan 1,0; yaitu suatu peningkatan pada yang satu akan menagkibatkan peningkatan ekivalen pada yang lain. Jika peningkatan laju metabolisme pada mamalia kecil hubungannya dengan hilangnya panas hanya sekdar karena peningkatan luas permukaan, maka kemiringan itu akan sejajar dengan kemiringan untuk hubungan permukaan dengan volume. Tetapi jelas bahwa luas permukaan yang tersedia untuk penghilangan panas, bukan hanya merupakan satu-satunya faktor. Kenyataan daya yang dihasilkan oleh otot hewan kecil adalah lebih besar daripada hewan besar.

Pada dasarnya laki-laki memiliki laju metanbolisme yang lebih besar dibandingkan dengan wanita karena laki-laki cenderung lebih aktif beraktivitas sehingga membutuhkan lebih banyak energi. Dengan akivitas yang banyak ini, maka hasil ekskresi yang dikeluarkan pun lebih banyak daripada wanita sehingga energi yang diproduksipun harus lebih banyak pula untuk menyeimbangkan energi antara yang dipakai dan yang dikeluarkan dengan energi yang dihasilkan di dalam tubuh. Demikian halnya dengan umur seseorang, dimana semakin bertambah tua umur seseorang maka semakin berkurang pula laju metabolisme basal yang dihasilkan selama hidupnya. Hal ini disebabkan oleh melambatnya proses-proses atau aktivitas biologis dan kimiawi dalam tubuhnya sehingga energi yang dihasilkan pula cenderung sedikit. Disamping itu pula, aktivitas sel pada umur yang lebih tua cenderung lebih lambat dibandingkan dengan umur yang relatif muda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V. PENUTUP

 

A.  Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, maka dapat ditarik simpulan bahwa besar kecilnya laju metabolisme basal tergantung pada jenis kelamin, umur, tinggi badan, serta berat badan. Dimana semakin tinggi tubuh seseorang maka semakin besar pula berat badan serta semakin lebar permukaan tubuhnya sehingga berpeluang untuk kehilangan panas tubuh yang lebih besar dan sebaliknya. Oleh karena itu dibutuhkan energi yang lebih besar pula untuk menyeimbangkan kehilangan panas.

B. Saran

Adapun saran yang dapat saya ajukan adalah semoga praktikum selanjutnya lebih baik lagi dari praktikum kali ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Adi, Dwi Arinto. 2006. Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan. Jurusan Biologi FMIPA Unhalu. Kendari.

 

Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Hewan Ternak. Ed ke-4. Terjemahan B. Srigandono & Koen Praseno. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

 

Kimball, John W. 1983. Biologi. Jilid 2. Ed ke-5. Terjemahan Siti Soetarmi Tjitrosomo & Nawangsari sugiri. Erlangga. Jakarta.

 

Pearce, Evelyn C. 1999. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Terjemahan Sri Yuliani Handoyo. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

 

Pratignjo. 1984. Biolo*gi 1. Depdikbud. Jakarta.

 

Villee, Claude A., dkk. 1999. Zoologi Umum. Jilid I. Ed ke-6. Terjemahan Nawangsari sugiri. Erlangga. Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 9, 2012 in Kumpulan Laporan Biologi

 

FISIOLOGI HEWAN: Hemolisis

PRAKTIKUM I

HEMOLISIS

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH :

NAMA                             : ARMADI CHAIRUNNAS

NO. STAMBUK                         : F1 D1 08 020

PROGRAM STUDI       : BIOLOGI

JURUSAN                       : BIOLOGI

KELOMPOK                  : III (TIGA)

 

 

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2011

 

I. PENDAHULUAN

  1. A.    Latar  Belakang

System sirkulasi pada manusia terdiri atas alat-alat peredaran darah, pembuluh darah, serta darah yang bertugas sebagai pelaksana transportasi.Darah merupakan suatu suspensi berwarna merah yang terdapat didalam pembuluh darah. Warna merah ini dapat berubah-ubah tergantung kadar oksigen dan kadar karbon dioksida yang terkandung didalamnya.

 Sel-sel darah pada manusia, terdiri atas sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Dalam sel-sel darah, kandungan sel darah putih  dan keping darah sebanyak 1%, sedangkan sel darah merah sebanyak 99%.

            Untuk senantiasa berada dalam keadaan yang seimbang sel senantiasa melakukan transport antar membrane. Transport antar membrane di bagi menjadi 2 yaitu pasif dan aktif. Diantara yang termasuk kedalam transport pasif adalah proses difusi dan osmosis.

            Sistem organ meliputi system peredaran darah dalam tubuh yang di kontrol oleh organ jantung. Darah merupakan cairan tubuh yang sangat penting dan harus tersedia dalam jumlah yang cukup. Berkurangnya caiaran tubuh atau terjadinya peristiwa tertentu pada darah akan mengakibatkan terjadinya hemolisis pada darah.

 

 

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Bagaimana peristiwa hemolisis dan krenasi berlangsung?

  1. C.    Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah mendemostrasikan peristiwa hemolisis dan krenasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

            Golongan darah seseorang mempunyai arti penting dalam kehidupan karena golongan darah itu merupukan keturunan (herediter). Sampai saat ini telah ditemukan cukup banyak sistem golongan darah, tetapi dalam tinjauan pustaka ini hanya akan diterangkan sistem yang paling penting, yaitu sistem ABO dan sistem Rh. Namun hanya sistem golongan darah Rhesus yang akan dijelaskan secara labih terperinci karena kaitannya dengan penyakit eritroblastosis fetalis.

            Darah terdiri dari dua komponen, yaitu sel sel dan cairannya (plasma). Plasma tanpa fibrinogen biasa kita sebut dengan serum. Pada abad ke 18, terjadi banyak kematian pada resipien tanpa diketahui sebab sebab nya. Namun Landsteiner menemukan bahwa sel sel darah manusia dari beberapa indivisu akan menggumpal ( beraglutinasi ) dalam kelompok kelompok yang dapat dilihat dengan mata telanjang, apabila dicampur dengan serum dari beberapa orang, tetapi tidak dengan semua orang. Kemudian diketahui bahwa dasar dari menggumpalnya eritrosit tadi ialah adanya reaksi antigen antibodi. Apabila suatu substansi asing disuntikkan ke dalam aliran darah dari seekor hewan akan mengakibatkan terbentuknya antibodi tertentu yang akan beraksi dengan antigen.(Suryo, 2005)

Sel darah merah (eritrosit) membawa hemoglobin dalam sirkulasi. Sel darah merah berbentuk cakram bikonkaf dan dibentuk dalam sumsum tulang. Pada mamalia sel darah merah kehilangan intinya sebelum masuk sirkulasi. Pada manusia, sel darah merah hidup dalam sirkulasi 120 hari (Ganong, 297).

Darah merupakan cairan viskus yang mengalami perubahan pada fisiknya yang dapat ditemukan pada beberapa penyakit. Komposisi darah yang unik suatu suspensi sel yang dapat berubah didalam larutan yang kaya protein menghasilkan sifat fisik yang kompleks. Sebagian besar pembuluh darah, shear rates (misalnya perbedaan velositas antara lapisan cairan) sangat tinggi yang bersebelahan dengan dinding arteri besar sebaliknya shear rates yang rendah terdapat pada vena kecil (Underwood,1999).

Unsur seluler suluruh darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit, RBC atau red blood corpuscules), beberapa jenis sel darah putih (leukosit, WBC atau white blood corpuscules), dan pecahan sel yang disebut trombosit. Fungsi sel darah merah adalah untuk transfor dan pertukaran oksigen serta karbondioksida. Sedangkan sel darah putih bertanggung jawab untuk mengatasi infeksi dan trombosit untuk hemostatis (Price, 1984).

Komponen darah yang lain yaitu platelet (trombosit), yaitu partikel yang menyerupai sel, dengan ukuran lebih kecil daripada sel darah merah atau sel darah putih. Sebagai bagian dari mekanisme perlindungan darah untuk menghentikan perdarahan, trombosit berkumpul pada daerah yang mengalami perdarahan dan mengalami pengaktifan. Setelah mengalami pengaktivan, trombosit akan melekat satu sama lain dan menggumpal untuk membentuk sumbatan yang membantu menutup pembuluh darah dan menghentikan perdarahan. Pada saat yang sama, trombosit melepaskan bahan yang membantu mempermudah pembekuan (Junquiera dkk, 1999).

Suatu antigen itu sangat spesifik untuk antigen tertentu. Terbentuknya antibodi demikian itu tergantung dari masuknya antigen asing. Selain dengan cara demikian, antibodi itu tidak akan dibentuk. Sistem demikian itu merupakan dasar dari imunisasi maupun untuk reaksi alergi. Sebaliknya ada pula antibodi yang dibentuk secara alamiah didalam darah, meskipun antigen yang bersangkutan tidak ada. Antibodi alamiah inilah yang mengambil peranan dalam golongan darah manusia, terutama dalam golongan darah A, B, AB, dan O yang amat penting.(Ganong, 2005).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. METODE PRAKTIKUM

 

  1. A.    Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 19 Maret 2011 pukul 13.30 WITA sampai selesai dan bertempat di Laboratorium Fisiologi Fakultas MIPA Universitas Haluoleo Kendari Sulawesi tenggara.

  1. B.     Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada Table 1.

Tabel 1. Alat yang digunakan pada praktikum Hemolisis

NO Alat Fungsi
1 Tabung reaksi Untuk menyimpan media pengamatan
2 Kaca objek Untuk menyimpan media yang akan diamati
3 Kaca penutup Untuk menutup media yang akan diamati agar tidak bergeser dari tempatnya
4 Mikroskop Untuk mengamati media yang akan diamati

 

 

Tabel 2. Bahan yang digunakan pada praktikum Hemolisis

NO Bahan Fungsi
1 NaCl 0,9% Sebagai larutan pembanding
2 NaCl 3% Sebagai larutan pembanding
3 Darah Bahan yang akan diamati
4 Aquades Sebagai larutan pembanding
  1. C.    Prosedur Kerja
    1. Menambahkan 3-5 tetes darah dalam tabung uji yang berisi 2 ml NaCl 0,9%
    2. Melakukan langkah 1 pada tabung uji kedua yang berisi 2 ml aquades
    3. Melakukan langkah 1 pada tabung uji ketiga yang berisi 2ml NaCl 0,3%
    4. Membandingkan  kecerahan dari ketiga larutan dalam tabung tersebut dengan mengamatinya dengan belakang kertas putih
    5. Mengambil sampel larutan sampel larutan dari masing-masing tabung uji dengan pipet, meneteskan masing-masing pada tabung kaca objek yang bersih, tutup dengan kaca penutup dan mengamatinya dengan perbesaran tinggi
    6. Menggambar penampakan sel darah pada ketiga preparat yang telah diamati

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A.    Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan kali ini adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Hasil pengamatan

NO Bahan

Warna

Gambar

1 NaCl 0,9% Merah keruh  
2 NaCl 0,3% Merah  
3 Aquades Merah transparan  

 

 

 

 

 

  1. B.     Pembahasan

hemolitik adalah anemia yang disebabkan karena meningkatnya kecepatan destruksi eritrosit. Umur eritrosit rata-rata 120 hari. Pada anemia hemolitik eritrosit hanya bertahan untuk beberapa hari.Penyebab anemia hemolitik dapat disebabkan oleh 2 faktor yang berbeda yaitu faktor intrinsik & faktor ekstrinsik. Faktor intrinsic yaitu kelainan yang terjadi pada sel eritrosit. Kelainan karena faktor ini dibagi menjadi tiga macam yaitu karena kekurangan bahan baku pembuat eritrosit, karena kelainan eritrosit yang bersifat kongenital contohnya thalasemia & sferosis congenital, dan abnormalitas dari enzim dalam eritrosit. Faktor ekstrinsik yaitu kelainan yang terjadi karena hal-hal diluar eritrosit. Dapat terjadi akibat reaksi non imunitas : karena bahan kimia / obat, akibat reaksi imunitas : karena eritrosit yang dibunuh oleh antibodi yang dibentuk oleh tubuh sendiri. Tanda terjadinya hemolisis yaitu terjadi penghancuran eritrosit yang berlebihan akan menunjukan tanda-tanda yang khas yaitu:

1. Perubahan metabolisme bilirubin dan urobilin yang merupakan hasil pemecahan eritrosit. Peningkatan zat tersebut akan dapat terlihat pada hasil ekskresi yaitu urin dan feses.

2. Hemoglobinemia : adanya hemoglobin dalam plasma yang seharusnya tidak ada karena hemoglobin terikat pada eritrosit. Pemecahan eritrosit yang berlebihan akan membuat hemoglobin dilepaskan kedalam plasma. Jumlah hemoglobin yang tidak dapat diakomodasi seluruhnya oleh sistem keseimbangan darah akan menyebabkan hemoglobinemia.

3. Masa hidup eritrosit memendek karena penghancuran yang berlebih.

4. Retikulositosis : produksi eritrosit yang meningkat sebagai kompensasi banyaknya eritrosit yang hancur sehingga sel muda seperti retikulosit banyak ditemukan.

Pada praktikum kali ini yang diamati adalah proses hemolisis dan krenasi yang terdapat di dalam sel darah merah atau eritrosit. Pada tabung pertama yang telah di isi dengan larutan NaCl 0,9% sebanyak 2 ml dan beberapa tetes  darah  memperlihatkan warna merah/coklat keruh dengan penampakan eritrositnya yang memperlihatkan bentuk bikonkaf, bentuk umum dari sebuah eritrosit. Hal ini menunjukkan eritrosit pada perlakuan ini tidak berubah sama sekali setelah diberi perlakuan disebabkan larutan didalam dan diluar sel sama yaitu 0,9% .

Pada tabung ke dua yang telah di isi dengan larutan NaCl 3% dan beberapa tetes darah memperlihatkan warna merah kecoklatan dengan penampakan eritrositnya yang mengkerut. Hal ini menunjukkan bahwa eritrosit dalam perlakuan kali ini mengalami proses krenasi yang disebabkan oleh larutan di luar eritrosit bersifat hypertonik, yang memaksa sitoplasma di dalam sel tertarik keluar karena perbedaan tekanan osmosis di dalam dan di luar eritrosit. Hal yang sama juga akan terjadi kika darah didedahakan pada larutan gula 10%, eritrosit akan mengkerut karena kekurangan air sehinnga menyebabkan warna darah menjadi merah pekat/kecoklatan.

Pada tabung ke tiga yang telah di isi aquades dan beberapa tetes darah memperlihatkan warna merah transparan dengan penampakn eritrositnya yang bengkak. Hal ini menunjukkan bahwa eritrosit dalam perlakuan kali ini mengalami proses hemolisis yang disebabkan oleh larutan di luar eritrosit bersifat hipotonis sehingga larutan di luar sel  menembus membran plasma eritosit yang berada dalam kondisi yang hipertonis menyebabkan eritrosit membengkak kemuadian pecah(lisis). Kejadian ini berlangsung di sebabkan eritrosit dalam suatu mahluk hidup selalu berusaha berada dalam kondisi yang homeostasis(seimbang), sehingga mendorong sel untuk melakukan transport antar membran.

Hemolisis juga dapat berlangsung oleh hal-hal lain, misalnya oleh deterjen, bisa ular atau plasma yang berbeda spesies. Selain itu setiap eritrosit memiliki kepekaan   yang berbeda-bed untuk menjadi hemolisis. Dengan kata lain eritrosit memiliki sifat fragilitas tertentu. Fragilitas ini dapat berubah karena penyakit tertentu.

 

 

 

 

 

V. PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan:

1. peristiwa hemolisis dan krenasi.

2. Krenasi terjadi pada larutan NaCl 0,9 % dan hemolisis terjadi pada

    larutan 3%.

3. Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga

    hemoglobin bebas ke dalam medium sekelilingnya plasma.

4. Krenasi terjadi bila eritrosit berada pada medium yang hipertonis,

    maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit

    (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi).

 

 

  1. B.     Saran

Saran yang dapat saya ajukan adalah agar lebih mengefisiensikan waktu lagi.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ganong, W.F, 1983, Fisiologi Kedokteran, EGC, Jakarta.

Ganong, WF. 2005 Review of Medical Physiology. 22th Edition, Appleton & Lange A Simon & Schuster Co, Los Altos, California.

 

Junqueira, L. C., J. Carneiro, R. O. Keley, 1999, Basic Histology, Appleton and Lange, London.

 

Price, 1984, Patofisiologi konsep klinik proses-proses penyakit, Edisi 2,EGC,Jakarta.

 

Suryo. 2005. Genetika Manusia. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

 

Underwood, 1999, patologi umum dan sistematik, EGC, Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 9, 2012 in Kumpulan Laporan Biologi